Wednesday, August 5, 2009

PPSDA IKAMI SULSEL

PEMBUKAAN

Bangsa Indonesia telah menetapkan Pancasila dan UUD 1945 sebagai sistem nilai dan aturan yang akan menjiwai pola pikir dan pola sikap setiap warga negara. Nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi dan keadilan social yang dipahami secara integral dan menyeluruh merupakan tata nilai yang disepakati oleh Bangsa Indonesia. Pun dalam menyusun aturan-aturan kehidupan, UUD 1945 senantiasa menjiwai.

Sulawesi Selatan yang merupakan unsur penyusun kebhinnekaan Bangsa Indonesia, adalah salah satu sumber kekayaan nilai Pancasila. Nilai-nilai Pancasila kemudian tercermin dalam identitas budaya Sulawesi Selatan yang bersendikan falsafah siri’ na pacce. Maka manusia Sulawesi Selatan yang menerapkan siri’ na pacce secara konsisten dan komprehensif dalam kehidupannya, pada hakikatnya telah juga mengamalkan nilai-nilai Pancasila.

IKAMI SUL-SEL sebagai organisasi yang menaungi mahasiswa/pelajar asal dan atau keturunan Sulawesi Selatan yang belajar di luar Sulawesi Selatan diharapkan dapat menjadi rumah untuk mengembangkan setiap potensi anggotanya yang beraneka ragam. Sebagai rumah, IKAMI SUL-SEL diharapkan dapat memberi bekal yang sebaik-baiknya dan secukupnya agar para anggotanya dapat lebih mengembangkan diri, baik dalam organisasi maupun di luar organisasi ini.

Agar dapat mewujudkan cita-cita diatas, maka seharusnya pengembangan anggota diarahkan pada pengembangan potensi-potensi/sumber daya anggota yang meliputi potensi dasar kemanusiaannya, potensi akademik, dan potensi budaya. Arah pengembangan potensi pun disesuaikan dengan semua potensi diatas, sehingga anggota dapat secara utuh menyadari tanggung jawabnya sebagai manusia yang berpendidikan sekaligus tanpa melupakan akar kebudayaannya. Oleh sebab itu, dalam melakukan proses pengembangan anggota, IKAMI SUL-SEL harus senantiasa memperhatikan tiga hal penting. Pertama, pendekatan awal agar anggota benar-benar merasa menjadi bagian dari IKAMI SUL-SEL sehingga mau berproses dan beraktivitas untuk mengembangkan diri dan organisasi. Kedua, proses pengembangan sangat ditentukan oleh kualitas organisasi dan pengurus selaku penganggung jawab PSDA, pengelolaan pelatihan, sarana dan fasilitas latihan, serta materi yang diberikan kepada anggota. Ketiga, iklim organisasi yang dibangun harus kondusif bagi pengembangan kualitas anggota dan mencerminkan budaya Sulawesi Selatan, yakni iklim yang menghargai potensi individu anggota tanpa meninggalkan kebersamaan serta menerapkan budaya siri’ na pacce yang menjadi roh organisasi.

Untuk memberikan panduan agar proses pengembangan sumber daya anggota dapat berjalan lancar dan memenuhi tujuan yang telah ditetapkan, maka dipandang perlu untuk menyusun Pedoman Pengembangan Sumber Daya Anggota (PPSDA) yang merupakan pedoman IKAMI SUL-SEL dalam mengembangkan setiap anggotanya untuk menjadi pribadi-pribadi panrita yang memegang teguh siri’ dan mempunyai pacce bagi masyarakat sekitarnya.

BAB I. POLA UMUM PENGEMBANGAN SUMBER DAYA ANGGOTA IKAMI SUL-SEL

1 Landasan Pengembangan SDA

Landasan Pengembangan Sumber Daya Anggota merupakan pijakan pokok yang dijadikan sebagai sumber inspirasi dan motivasi dalam proses pengembangan SDA IKAMI SUL-SEL . Dalam hal ini, sedikitnya ada 3 (tiga) landasan yang dapat dipakai, yaitu sebagai berikut:

1.1 Landasan Filosofis

Organisasi adalah wadah yang dibentuk oleh sekumpulan individu untuk mencapai tujuan bersama yang mempunyai aturan-aturan yang disepakati bersama. Dengan demikian, sebuah organisasi dapat dikatakan lengkap apabila mempunyai anggota, tujuan, dan aturan.

IKAMI SUL-SEL adalah sebuah organisasi yang tidak akan bisa lepas dari konsekuensi logisnya sebagai sebuah organisasi yang dibentuk dari kumpulan individu-individu. Individu-individu inilah yang kemudian akan membawa arah organisasi. Tapi kondisi organisasi pula lah yang dapat menentukan tingkat perkembangan individu dalam organisasi tersebut. Maka, dapat disimpulkan bahwa hanya organisasi yang baik yang dapat membuat individu-individu yang ada di dalamnya berkembang, dan hanya dengan indivu-individu yang berkualitas didalamnya maka sebuah organisasi dapat berjalan dan beraktivitas dengan baik; menjalankan aturan dan mencapai tujuan yang dicita-citakan.

Agar dapat mencapai mencapai dua hal ini, yakni organisasi yang baik dan anggota yang berkualitas, maka IKAMI SUL-SEL perlu menetapkan pedoman bersama. Pedoman ini akan menetapkan pola dasar pengembangan anggota.

Sesuai dengan penyusun dasar organisasi seperti telah disebutkan di atas, maka kualitas anggota dipandang perlu untuk ditingkatkan agar dapat membawa organisasi menjadi lebih baik. Kemampuan managerial dan leadership kemudian menjadi hal pokok yang perlu dikembangkan dalam diri setiap anggota. Dengan dua kemampuan ini, anggota akan dapat mengatur organisasi dengan baik sekaligus memimpin anggota-anggota yang lain sesuai dengan tugas dan fungsinya dalam organisasi.

IKAMI SUL-SEL juga tidak melupakan latar belakang anggotanya yang bersifat akademis, sehingga pola pengembangannya kemudian menempatkan kemampuan dan keberhasilan akademis anggot sebagai prioritas yang sangat penting.

Dan karena IKAMI SUL-SEL adalah juga organisasi yang berbasis kebudayaan, maka nilai-nilai budaya sudah seharusnya ditanamkan dalam diri setiap anggota. Nilai-nilai dan kearifan lokal budaya Sulawesi Selatan harus senantiasa menjiwai pola pikir dan pola sikap setiap anggota IKAMI SUL-SEL. Pemahaman dan penerapan nilai-nilai budaya secara menyeluruh dan tanpa bias kemudian menjadi hal yang sangat penting dalam hal ini.

Tentu saja, keseluruhan pengembangan potensi individu diatas harus didasarkan pada sifat dasar kemanusiaan agar potensi kemanusiaan anggota tetap terjaga sehingga tetap menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan tidak menjadi manusia yang teralienasi dari kemanusiaannya sendiri.

Agar organisasi juga turut berkembang mengikuti perkembangan kualitas anggota, dan demikian pula kondisi organisasi dapat menjamin pengembangan kualitas anggota, maka pola pengembangan seharusnya disusun sedemikian rupa sehingga pengembangan individu dan pengembangan organisasi berjalan secara integral dan berkesinambungan.

1.2 Landasan Konstitusi

Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga IKAMI sebagai konstitusi resmi organisasi telah menetapkan Pancasila sebagai azas organisas, sebagaimana tercantum dalam pasal 4 Anggaran Dasar. Hal ini berarti seluruh aktifitas organisasional seharusnya dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila; ketuhanan, kemanusiaan, kesatuan, demokrasi, dan keadilan sosial. Bingkai ini pula yang akan menjadi landasan bagi IKAMI mengembangkan potensi/sumber daya anggota-anggotanya.

Dengan azas ini, IKAMI SUL-SEL kemudian menetapkan tujuannya (pasal 5 AD) yaitu meningkatkan mutu keilmuan mahasiswa/pelajar Indonesia dan mengabdi pada masyarakat, dengan tetap melestarikan nilai-nilai budaya Sulawesi Selatan serta membangun semangat kekeluargaan. Dengan tujuan-tujuan ini, IKAMI SUL-SEL telah menegaskan posisinya sebagai organisasi yang dibangun dengan semangat kekeluargaan, atas dasar nilai-nilai budaya Sulawesi Selatan yang merupakan cerminan dari Pancasila, dengan tujuan meningkatkan mutu keilmuan dan sekaligus mengabdi pada masyarakat.

Kemudian berturut-turut dalam pasal 6, 8 dan 9 Anggaran Dasar, IKAMI SUL-SEL menegaskan sifatnya sebagai organisasi yang independen yang berperan sebagai organisasi kekeluargaan dan berfungsi sebagai wadah mahasiswa/pelajar Indonesia yang berasal dan atau keturunan Sulawesi Selatan yang menuntut ilmu di luar Sulawesi Selatan. Hal ini berarti IKAMI SUL-SEL harus senantiasa menjaga posisinya agar tetap tidak berpihak pada kepentingan siapapun dan apapun selain kepada kebenaran, serta tetap menjaga suasana kekeluargaan di dalam “rumah” organisasi ini.

Pasal 7 AD IKAMI SUL-SEL secara eksplisit memuat usaha-usaha organisasi yang meliputi usaha pembinaan kepribadian anggota yang bermoral dan berakhlak mulia, usaha pengembangan potensi dan kreatifitas anggota, dengan turut berperan aktif dalam dunia pendidikan dan berpatisipasi secara konstruktif serta kreatif dalam pembangunan Indonesia, usaha peningkatkan keharmonisan dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara, serta usaha-usaha lain yang sesuai dengan azas organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.

Pasal-pasal diatas memberikan landasan yang kuat bagi organisasi IKAMI SUL-SEL dalam melakukan pengembangan sumber daya anggotanya. Khususnya pada pasal 7 Anggaran Dasar secara eksplisit disebutkan usaha pembinaan kepribadian anggota serta pengembangan potensi dan kreatifitas anggota, sehingga sudah menjadi keharusan bagi IKAMI SUL-SEL mewujudkan usaha-usaha tersebut dalam karya nyata kegiatan organisasional yang dilakukan secara sistematis, terukur dan berkesinambungan.

Dengan berlandaskan konstitusi IKAMI SUL-SEL seperti yang telah dijabarkan diatas, maka dipandang perlu untuk menyusun sebuah Pedoman Pengembangan Sumber Daya Anggota. Adapun pedoman ini harus sesuai dengan azas organisasi dan juga membawa organisasi ini lebih dekat pada tujuannya. Pedoman ini juga harus dijamin bebas dari kepentingan apapun dan siapapun, memperkuat rasa kekeluargaan dalam organisasi dengan tanpa melupakan fungsi dasar IKAMI SUL-SEL sebagai “rumah”; mewadahi mahasiswa/pelajar Indonesia yang berasal dan atau keturunan Sulawesi Selatan yang menuntut ilmu di luar Sulawesi Selatan. Pedoman ini adalah perwujudan dari usaha-usaha organisasi IKAMI SUL-SEL sebagaimana telah diamanahkan dalam Anggaran Dasar IKAMI SUL-SEL.

1.3 Landasan Sosiologis-Kultural

Ada beberapa hal yang secara sosiologis-kultural melandasi pola pengembangan sumber daya anggota IKAMI SUL-SEL. Diantaranya adalah letak organisasi yang hanya berada diluar wilayah geografis Sulawesi Selatan, dan juga degradasi nilai budaya yang akhir-akhir ini semakin mewarnai kehidupan kita.

Lokasi organisasi yang hanya berada di luar Sulawesi Selatan telah secara tidak langsung menempatkan jarak bagi anggota untuk lepas dari wilayah geografis Sulawesi Selatan. Kondisi ini sedikit banyak akan mempengaruhi kondisi psikologis anggota yaitu anggota benar-benar merasa merantau dikarenakan hubungan organisasi dengan teman-teman yang berada di Sulawesi Selatan pun tidak bisa terjadi dalam naungan organisasi yang sama, dan karenanya organisasi ini benar-benar hanya milik para perantau.

Kesamaan kondisi sebagai sesama perantau inilah yang kemudian menjadi salah satu pengikat antar-anggota walaupun berbeda cabang. Di sisi lain, juga menjadi rintangan bagi anggota untuk mendapatkan perbandingan langsung dengan kondisi yang ada di Sulawesi Selatan. Dalam hal perkembangan budaya misalnya, anggota hanya bisa mendapatkan data “tidak resmi” karena sumbernya tidak bisa dari dalam organisasi sendiri. Jadinya, setiap anggota mempunyai persepsi yang bisa jadi berbeda tentang Sulawesi Selatan.

Di lain pihak, kondisi geografis yang berada di luar Sulawesi Selatan mengharuskan adanya interaksi langsung dengan kondisi sosiologis-kultural setempat. Tiga hal yang kemudian bisa menjadi pilihan adalah melebur dengan budaya setempat; tidak peduli dengan budaya setempat; ataupun gabungan dari keduanya. Tentu kita sepakat bahwa pilihan ketiga adalah pilihan yang paling tepat. Pilihan ini mempunyai konsekuensi logis yaitu anggota IKAMI SUL-SEL harus memperdalam pengetahuan dan pengalamannya tentang budaya Sulawesi Selatan pada umumnya.

Faktor lain yang juga menjadi tantangan adalah adanya serangan budaya dari luar sebagai akibat langsung proses globalisasi yang sedang terjadi. Diantara dua faktor sosiologis-kultural inilah, anggota IKAMI SUL-SEL harus pandai mencari dan memainkan perannya sehingga tidak kehilangan jati dirinya sebagai manusia Sulawesi Selatan.

Sementara itu, tidak semua anggota IKAMI SUL-SEL berangkat merantau dengan bekal pengetahuan dan pengalaman sosiologis-kultural Sulawesi Selatan yang cukup. Hatta itu di Sulawesi Selatan sendiri, sangat jarang kita temukan pribadi-pribadi yang secara komprehensif mengetahui dan mengamalkan budaya Sulawesi Selatan. Degradasi pemahaman tentang nilai-nilai kearifan lokal budaya kita ini, turut memberi andil yang cukup besar dalam kuatnya serangan budaya asing.

Kondisi diatas harus mendapatkan jawaban dari IKAMI SUL-SEL yang telah menegaskan diri menaungi para mahasiswa/pelajar asal dan atau keturunan Sulawesi Selatan. Belajar dari para pendahulu kita yang tetap mampu mewarnai seluruh kebudayaan dengan budaya asli Sulawesi Selatan di manapun mereka berada, kita harus percaya bahwa budaya Sulawesi Selatan akan dapat diterima oleh kondisi sosiologis-kultural apapun.

Maka menjadi penting bagi IKAMI SUL-SEL untuk membekali anggotanya dengan pengetahuan, pemahaman dan pengalaman budaya Sulawesi Selatan agar setiap anggotanya tidak kehilangan identitasnya sebagai manusia Sulawesi Selatan sekaligus mampu menjadi agen-agen kebudayaan sehingga masyarakat dimanapun anggota berada mengetahui dan memahami budaya Sulawesi Selatan secara komprehensif.

2 Pola Dasar Pengembangan Sumber Daya Anggota

Keterangan:

= Klasifikasi kondisi anggota


= Pelatihan Formal


= Kegiatan Nonformal PSDA

Gambar 1. Diagram alir Pola Pengembangan Sumber Daya Aanggota

2.1 Pengertian-pengertian Dasar

2.1.1 Sumber Daya Anggota

Sebagaimana disebutkan dalam Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga IKAMI SUL-SEL, ada empat jenis anggota dalam organisasi ini. Anggota biasa IKAMI SUL-SEL adalah mahasiswa asal dan atau keturunan Sulawesi Selatan yang menuntut ilmu di luar Sulawesi Selatan. Sedangkan anggota luar biasa adalah yang bukan keturunan dan atau asal Sulawesi Selatan tetapi mencatatkan dirinya sebagai anggota. Adapun anggota muda adalah yang masih berstatus pelajar.

Dalam hal ini, yang menjadi sasaran utama dari PSDA ini adalah anggota biasa dan anggota luar biasa.

Ada tiga potensi/sumber daya anggota yang diidentifikasi untuk dikembangkan oleh IKAMI SUL-SEL yaitu potensi dasar kemanusiaan, potensi akademik, dan potensi budaya dari masing-masing anggota. Identifikasi ini berdasarkan pola awal yang menjadikan IKAMI SUL-SEL sebagai rumah bagi setiap anggotanya; mengembangkan potensi dan pengetahuan dasar anggota sehingga setiap anggota dapat mengembangkan dirinya semaksimal mungkin di luar IKAMI SUL-SEL.

Dalam mengembangkan potensi/sumber daya anggotanya, IKAMI SUL-SEL terlebih dahulu mengikat semua anggota dalam kebersamaan yang dibingkai budaya Sulawesi Selatan sehingga setiap anggota dapat merasakan potensi budaya yang dimilikinya. Dalam tahap setelahnya, barulah anggota diperkenalkan pada potensi dasar kemanusiaannya dan pengembangan potensi budaya secara lebih terarah melalui pelatihan dan kegiatan organisasional. Adapun potensi akademik dikembangkan melalui kegiatan organisasional sesuai latar belakang akademik masing-masing anggotanya.

2.1.2 Pengembangan SDA

Pengembangan Sumber Daya Anggota dalam organisasi IKAMI SUL-SEL disusun sedemikian rupa sehingga pengembangan setiap anggota dan pengembangan organisasi berjalan secara integral dan berkesinambungan, seperti yang terlihat pada diaram alir Pola Pengembangan Sumber Daya Anggota diatas. Hal ini dimaksudkan agar organisasi IKAMI SUL-SEL dapat berkembang searah dengan peningkatan kualitas anggotanya.

2.2 Anggota IKAMI SUL-SEL

Untuk memudahkan proses identifikasi dan pengembangan potensi anggota, maka diperlukan adanya klasifikasi anggota berdasarkan potensi, tingkat pengetahuan dan pengalaman, periode keanggotaan dan tingkat perkembangan psikologis. Perlu ditekankan bahwa pengistilahan yang dipakai dalam klasifikasi yang dilakukan mewakili parameter-parameter yang akan dijelaskan kemudian berkaitan pengistilahan tersebut. Anggota mungkin saja memiliki tempat di dua atau lebih klasifikasi berbeda, tapi hal itu dapat disesuaikan dengan memberi perlakuan-perlakuan yang akan menempatkannya pada klasifikasi yang sesuai.

Perlu diketahui pula bahwa target pada setiap klasifikasi adalah merupakan kondisi awal pada tingkatan klasifikasi berikutnya. Sehingga menjadi tanggung jawab setiap kita agar target di setiap klasifikasi dapat tercapai sehingga tidak menyulitkan anggota untuk menempuh pola pengembangan di tingkatan klasifikasi selanjutnya.

2.2.1 Anggota Baru

Klasifikasi anggota baru pada PSDA ini mewakili parameter-parameter kondisi awal sebagai berikut:

· Pola fikir masih belum holistik.

· Pengetahuan tentang IKAMI SUL-SEL masih belum ada/sangat sedikit.

· Belum bisa beradaptasi dengan kondisi lingkungan.

· Perkembangan psikologis berada pada fase transisi antara remaja menuju dewasa.

· Belum banyak memiliki keterampilan berorganisasi.

· Memiliki semangat dan rasa ingin tahu yang tinggi.

Dengan melihat parameter-parameter di atas, maka dapat disimpulkan bahwa anggota baru adalah juga mahasiswa baru, dan rentang waktu perkembangannya adalah selama masa 1 (satu) tahun pertama.

Adapun target pengembangan anggota selama tahun pertama ini adalah sebagai berikut:

· Anggota baru tidak merasa sendiri di lingkungan baru.

· Anggota baru memiliki motivasi dan semangat kuliah.

· Anggota baru dapat beradaptasi dengan lingkungan perkuliahan (akademik, pergaulan dan kota domisili).

· Mapping minat dan bakat anggota baru.

· Anggota baru merasa bangga dengan IKAMI SULSEL.

· Anggota baru merasa terikat dengan komunitas IKAMI SULSEL (antar sesama anggota baru maupun dengan senior IKAMI SULSEL).

· Anggota baru tidak merasa sendiri di lingkungannya yang baru.

· Anggota baru memiliki pengetahuan yang cukup tentang IKAMI SUL-SEL.

2.2.2 Anggota

Seperti yang telah dikemukakan di atas, klasifikasi Anggota pada PSDA ini adalah mempunyai parameter yang sama dengan target pada klasifikasi Anggota Baru. Dengan parameter seperti itu, maka dapat disimpulkan bahwa mereka yang berada pada klasifikasi ini sudah berada pada tahun kedua dan atau ketiga perkuliahan.

Adapun target pengembangan pada tingkatan klasifikasi ini adalah sebagai berikut:

· Anggota bersedia menjadi pengurus cabang IKAMI SUL-SEL.

· Anggota bersedia beraktifitas di IKAMI SUL-SEL.

· Anggota menjadi lebih tahu tentang IKAMI SUL-SEL.

· Anggota memiliki skill organisasional dan manajerial.

· Prestasi akademik anggota meningkat.

· Anggota memiliki kemampuan intelektual.

2.2.3 Pengurus

Parameter penentu untuk masuk-tidaknya anggota pada klasifikasi Pengurus pada PSDA ini adalah sama dengan target pada klasifikasi Anggota diatas. Anggota dengan kualifikasi seperti ini diharapkan sudah berada pada tahun ketiga dan atau keempat perkuliahannya.

Adapun target yang ingin dicapai pada tingkatan klasifikasi Pengurus adalah sebagai berikut:

· Anggota punya kemampuan memimpin.

· Anggota dapat menjadi pemimpin di IKAMI SULSEL.

· Kemampuan managerial dan organisasi anggota sudah mumpuni.

· Prestasi akademik angota meningkat.

· Anggota mempunyai kemampuan intelektual mumpuni.

2.2.4 Pasca-Pengurus

Sebagaimana sebelumnya, parameter untuk klasifikasi Pasca-Pengurus dalam PSDA ini adalah sama dengan target pada klasifikasi Pengurus diatas. Anggota dengan parameter seperti ini adalah yang sudah pernah menjadi pengurus cabang, berada pada masa perkuliahan tahun keempat atau lebih. Dengan demikian, anggota yang sedang menempuh jenjang perkuliahan S2 juga masuk pada kualifikasi ini.

Target yang ingin dicapai pada klasifikasi ini sangat sederhana, yaitu anggota harus segera menyellesaikan jenjang kuliah yang sedang ditempuhnya, D3 ataupun S1.

2.2.5 Kesinambungan Anggota

Dari uraian diatas, terlihat jelas bahwa kesinambungan jumlah anggota memegang peranan penting dalam pengembangan sumber daya anggota maupun pengembangan organisasi. Maka dari itu, diperlukan peran aktif dari cabang-cabang untuk mendata dan mengidentifikasi anggotanya. Di sini, cabang berperan sebagai ujung tombak dalam pola pengembangan sehingga kualitas cabang akan menentukan kualitas organisasi ke depan. Diharapkan pula, cabang-cabang aktif mempromosikan institusi pendidikan tinggi yang berada di daerah/kota cabangnya masing-masing.

2.3 Pengembangan Anggota

Pengembangan anggota merupakan sekumpulan aktifitas yang direncanakan dan dilakukan secara sistematis, terukur dan berkesinambungan dalam upaya mengembangkan sumber daya anggota dan organisasi.

2.3.1 Latihan Kebudayaan dan Kepemimpinan

Latihan Kebudayaan dan Kepemimpinan IKAMI SUL-SEL merupakan salah satu bentuk upaya pengembangan sumber daya anggota yang dilakukan secara sadar, sistematis, terencana dan berkesinambungan serta memiliki pedoman dan aturan yang baku. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan nilai-nilai dan kemampuan tertentu kepada pesertanya sesuai dengan tujuan dan target pada masing-masing jenjang pelatihan. Pelatihan ini menuntut kualifikasi tertentu untuk menjadi peserta serta menitikberatkan pada pembentukan watak dan karakter melalui transfer nilai, wawasan dan keterampilan serta motivasi kepada peserta agar dapat meningkatkan dan mengaktualisasikan kemampuannya.

Latihan Kebudayaan dan Kepemimpinan terdiri atas 2 jenjang, yaitu:

a. Latihan Kebudayaan dan Kepemimpinan Dasar (LKKD)

Pelatihan ini diberikan kepada anggota dengan klasifikasi Anggota, dalam rangka mempersiapkan mereka menjadi pengurus IKAMI SUL-SEL di cabang masing-masing.

b. Latihan Kebudayaan dan Kepemimpinan Lanjut (LKKL)

Pelatihan ini diberikan kepada anggota dengan klasifikasi Pengurus, dalam rangka mempersiapkan mereka menjadi pengurus inti IKAMI SUL-SEL di cabang masing-masing, menjadi pengurus IKAMI SULSEL di level lebih tinggi maupun di organisasi lain di luar IKAMI SUL-SEL.

Mengenai metode dan kurikulum Latihan Kebudayaan dan Kepemimpinan akan dibahas pada bab tersendiri.

2.3.2 Pelatihan Informal

Pelatihan-pelatihan informal di IKAMI SUL-SEL bertujuan untuk memberikan wawasan dan keterampilan tambahan kepada anggota agar potensi-potensinyanya dapat berkembang semaksimal mungkin. Adapun bentuk dari pelatihan informal ini dapat berupa up grading maupun pelatihan-pelatihan tambahan lainnya yang dipandang perlu dalam meningkatkan kualitas anggota.

Up grading yang sebaiknya diberikan kepada anggota dalam rangka meningkatkan kualitas anggota dan mengembangkan organisasi adalah sebagai berikut:

1. Up Grading Kepengurusan

2. Up Grading Kesekretariatan

3. Up Grading Kebendaharaan

4. Up Grading Kebudayaan

5. Up Grading Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi.

Pelatihan-pelatihan informal yang lain dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan cabang masing-masing.

2.3.3 Kegiatan Nonformal PSDA

Dalam rangka peningkatan kualitas anggota dan pengembangan organisasi secara integral dan berkesinambungan, maka diperlukan rekayasa kegiatan-kegiatan organisasi. Kegiatan-kegiatan organisasional ini diarahkan untuk pengembangan sumber daya anggota secara informal.

Kegiatan-kegiatan ini lebih merupakan kegiatan PSDA tapi mungkin dilaksanakan oleh bidang lain. Bentuk kegiatan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing cabang, dengan tetap memperhatikan target dari masing-masing tingkatan klasifikasi. Klasifikasi anggota menjadi dasar bagi IKAMI SUL-SEL untuk memberikan perlakuan organisasional kepada anggota, sebagaimana dicontohkan sebagai berikut:

2.3.3.1 Anggota Baru

Kegiatan informal PSDA yang diberikan kepada anggota dengan klasifikasi Anggota Baru didasarkan pada parameter yang telah dipaparkan diatas dan bertujuan untuk mencapai target sebagaimana telah dicanangkan. Adapun contoh kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan pada anggota dengan klasifikasi Anggota Baru adalah sebagai berikut:

1. Penyambutan, merupakan serangkaian kegiatan organisasi untuk memperkenalkan organisasi IKAMI SUL-SEL kepada Anggota Baru, dan juga sebagai langkah awal adaptasi Anggota Baru terhadap lingkungan agar mereka tidak merasa sendirian. Beberapa rangkaian kegiatan yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

§ Pemasangan publikasi penyambutan anggota baru. Publikasi dapat berupa baliho, iklan di media lokal, spanduk, pamflet dan lain lain.

§ Mengadakan acara Welcome Party dan sekaligus sebagai ajang perkenalan antara Anggota Baru dengan organisasi IKAMI SUL-SEL dan seluruh anggotanya.

§ Pendataan Anggota Baru kemudian dilakukan dengan cara pengisian Form Data Anggota dan pemetaan minat dan bakat setiap Anggota Baru.

2. Pendampingan, merupakan wadah bagi anggota lama untuk memberikan arahan dan berbagi pengalaman kepada Anggota Baru agar dapat beradaptasi dengan lingkungannya yang baru, juga untuk meningkatkan semangat Anggota Baru dalam menjalani kehidupan perkualiahan, serta membentuk ikatan antara Anggota Baru dan para anggota yang telah terlebih dahulu berada di IKAMI SULSEL. Beberapa jenis pendampingan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

§ Pendampingan pengkaderan/OSPEK, bila ada.

§ Pendampingan kuliah dengan cara membantu masalah akademik Anggota Baru.

§ Pendampingan psikologis, agar memudahkan proses adaptasi Anggota Baru. Proses pendampingan ini dapat dilakukan dengan mengajak Anggota Baru ngobrol dan jalan-jalan untuk mengenal lingkungan barunya.

Cara yang cukup efektif dalam menjalankan pendampingan ini adalah dengan membagi Anggota Baru dalam kelompok-kelompok yang masing-masing di-tanggungjawab-i oleh seorang dari kualifikasi Anggota. Dengan cara ini, mapping minat dan bakat mereka akan bisa berjalan lebih efektif.

3. Pemilihan Karaeng Angkatan. Karaeng memegang fungsi sebagai koordinator angkatan. Acara ini dikondisikan bernuansa kekeluargaan tetapi tetap kompetitif. Pemilihan ini selain akan meningkatkan kebersamaan diantara mereka, juga untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan dan rasa tanggungjawab kepada sesama.

4. Pengadaan kegiatan yang dipilih dan dikoordinir oleh Anggota Baru IKAMI SULSEL sendiri. Bentuk kegiatan dapat berupa acara inagurasi yang detailnya menyesuaikan dengan keadaan masing-masing cabang. Dengan acara ini, pengurus dapat mengevaluasi semua hal yang telah diberikan selama kurun waktu sebelumnya, untuk kemudian menentukan perlakuan yang tepat untuk diberikan agar potensi para Anggota Baru dapat lebih dikembangkan.

2.3.3.2 Anggota

Perlakuan-perlakuan :

1. Event-event IKAMI SULSEL

Sebagai sebuah organisasi, IKAMI SULSEL sudah seharusnya mengadakan event-event sebagai bagian dari kerja organisasinya. Selain sebagai kegiatan oganisasi, pengadaan event juga bertujuan untuk mempererat ikatan antar anggota dan juga meningkatkan kualitas anggota. Dalam setiap event, setiap anggota diberi kesempatan untuk mengkoordinasi event-event IKAMI SULSEL dengan job-desc yang jelas. Dengan demikian, maka anggota diharapkan dapat meningkatkan potensinya di bidang managerial dan leadership skill. Event-event ini juga harus dirancang agar tetap berkesinambungan dengan wacana-wacana kemanusiaan, kebudayaan dan akademik agar tetap dalam koridor tiga potensi yang ingin dikembangkan. Adapun event-event lain yang hanya sedikit bersinggungan dengan tiga potensi ini, diadakan hanya sebagai tambahan wacana saja bagi anggota.

2. Menjadi pengurus IKAMI SULSEL

Untuk dapat mengembangkan potensi anggota lebih lanjut, maka diperlukan kejelasan tanggungjawab dan bidang kerja dalam waktu yang cukup lama sehingga anggota mengetahui kemampuan mereka yang sebenarnya. Untuk itu, diperlukan pembagian posisi dan kedudukan sesuai minat, bakat dan kemampuan masing-masing anggota. Dalam usaha mencapai hal itu, setiap anggota seharusnya dapat ditampung dalam struktur kepengurusan IKAMI SULSEL. Dengan jelasnya bidang kerja dan tanggungjawab dalam organisasi, maka anggota dapat mengetahui kemampuan dirinya dalam hal organisasi dan manajerial serta dapat mengaplikasikan kemampuan dan pengetahuan mereka untuk IKAMI SULSEL.

3. IKAMI SULSEL menyediakan forum-forum diskusi

Selain kemampuan managerial dan leadership, anggota-anggota IKAMI SULSEL tentunya juga membutuhkan sarana untuk pengembangan kemampuan intelektual. Hal ini penting agar anggota tidak hanya tumbuh menjadi bahan bakar industri semata, tapi juga dapat mengembangkan kemanusiaannya sehingga dapat membentuk masyarakat yang lebih baik nantinya. Kemampuan intelektual anggota dikembangkan melalui diskusi intens yang diarahkan untuk mencari kebenaran. Jika dilakukan secara benar, maka diskusi-diskusi ini akan mengembangkan potensi kemanusiaan, potensi budaya sekaligus potensi akademik anggota.

Adapun jenis forum diskusi yang dapat diberikan dapat dibedakan sebagai berikut:

§ Tema bebas dengan pembicara dari kalangan sendiri.

Tema bebas yang dimaksud diatas, dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mengembangkan potensi kemanusiaan dan potensi kebudayaan anggota. Setiap diskusi hendaknya selalu diarahkan pada pencarían kebenaran hakiki dan sekaligus mengangkat sudut pandang budaya, khususnya kebudayaan Sulawesi Selatan. Pemilihan pembicara pun sebaiknya dipilih dari anggota maupun alumni IKAMI SULSEL sendiri yang tentunya berkompeten dalam persoalan yang menjadi topik diskusi. Pemilihan pembicara yang seperti ini diharapkan dapat merangsang keinginan anggota untuk terus menerus mengembangkan diri.

§ Tema akademik

Untuk tema akademik, diharapkan untuk disesuaikan dengan keadaan masing-masing cabang dan kampus dimana kebanyakan anggota cabang itu kuliah. Namun juga diperlukan pembahasan akademik interdisipliner untuk memperkaya wacana dan sudut pandang anggota dalam melihat permasalahan akademiknya.

2.3.3.3 Pengurus

Seperti telah dikemukakan diatas, anggota yang dapat digolongkan dalam klasifikasi Pengurus adalah mereka yang telah dan sedang menjadi pengisi posisi structural di IKAMI SULSEL, dan telah mempunyai kemampuan managerial dan organisasional serta kemampuan leadership. Salah satu keunikan dari kelompok ini adalah mereka menyadari proses yang sedang mereka jalani karena mereka lah yang merancang dan memutuskan pola yang cocok untuk mereka. Dari segi organisasional dan managerial, diharapkan mereka telah menyadari dan menjalankan tanggungjawab masing-masing. Yang perlu diperhatikan adalah kemampuan leadership, intelektual dan akademik.

Untuk itu, beberapa hal yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Pembentukan kelompok-kelompok studi dimana anggota dengan kategori Pengurus berkewajiban menjadi mentor/pembimbing. Kelompok-kelompok studi ini berupa kelompok studi akademik sesuai dengan spesialisasi pendidikan maupun kemampuan masing-masing anggota dengan kategori ini. Adanya kelompok studi ini, selain dapat membantu para anggota baru, juga memaksa para Pengurus untuk tidak melupakan apa yang telah pernah mereka pelajari.

2. Sedapat mungkin, anggota dengan klasifikasi Pengurus dapat memegang posisi kunci di struktural organisasi IKAMI SULSEL. Selain untuk membagi ilmu dengan anggota yang lebih mudah, juga untuk mengikat mereka lebih dalam di organisasi.

3. Para anggota yang termasuk Pengurus harus punya kelompok diskusi untuk kalangan mereka sendiri. Seringkali anggota yang telah lebih berilmu menemui kejenuhan dalam mengabdi karena merasa tidak dapat berkembang lagi. Dengan pembentukan kelompok diskusi terbatas ini, mereka jadi punya tempat untuk lebih mengembangkan diri bersama orang-orang yang sepadan.

4. Setiap pengurus inti wajib menjadi pembicara pada diskusi bebas maupun akademik. Dalam setiap diskusi, anggota dengan kategori ini harus siap menjadi pembawa materi sesuai dengan kemampuan mereka.

2.3.3.4 Pasca-Pengurus

Untuk anggota dengan klasifikasi Pasca-Pengurus, diharapkan untuk tidak terlibat terlalu dalam lagi dengan urusan-urusan organisasional. Organisasi ini wajib membantu mereka yang berada pada tingkatan ini untuk menyelesaikan tingkat akademis mereka. Namun bukan berarti mereka benar-benar lepas dari organisasi. Mereka juga dapat dimintai bantuan melalui konsultasi-konsultasi pengurus.

Hal ini akan sangat berarti di masa depan organisasi. Dengan membantu anggota untuk menyelesaikan persoalan akademik, maka organisasi telah member ikatan terakhir yang kuat pada setiap anggota. Diharapkan, mereka akan menjadi jaringan alumni yang dapat membantu organisasi di masa depan.

2.4 Arah Pengembangan

Arah pengembangan sumber daya anggota IKAMI SULSEL adalah pedoman pedoman yang dijadikan petunjuk yang menggambarkan tujuan dari keseluruhan proses Pengembangan Sumber Daya Anggota IKAMI SULSEL. Dalam hal ini, basis pengembangan anggota di IKAMI SUL-SEL adalah pengembangan potensi dasar kemanusiaan, potensi akademik dan potensi budaya yang dimiliki masing-masing anggota. Kesemuanya itu kemudian diarahkan untuk mencapai tujuan organisasi sebagaimana tercantum dalam Anggaran Dasar IKAMI SULSEL.

2.4.1 Maksud dan Tujuan

Adapun maksud dan tujuan Pengembangan Sumber Daya Anggota adalah usaha yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan organisasi melalui suatu proses sadar dan sistematis sebagai alat untuk mengembangkan potensi-potensi dasar anggota dalam rangka membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menuju tatanan dunia yang lebih baik melalui pengembangan potensi kemanusiaan, potensi kebudayaan dan potansi akademik anggota sehingga dapat mencapai tujuan sesuai yang ditetapkan dalam Pola Pengembangan Sumber Daya Anggota (PPSDA) IKAMI SULSEL.

2.4.2 Model Ideal

Keseluruhan proses pengembangan diatas bermuara pada terciptanya Model Ideal anggota IKAMI SULSEL yang mempunyai kualitas sebagai berikut:

· Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

· Memiliki rasa Nasionalisme daerah dan Negara.

· Mengimplementasikan siri’ na pacce.

· Berperan dalam penguatan seni dan budaya daerah.

· Memiliki fisik dan mental yang kuat.

· Memiliki keterampilan berorganisasi yang baik.

· Berhasil dalam bidang akademik yang dipilihnya.

BAB II. POLA DASAR PELATIHAN

1 Arah Pelatihan

Arah pelatihan merupakan gambaran dari tujuan yang ingin dicapai dalam rangkaian pelatihan yang akan dilakukan oleh organisasi. Arah pelatihan ini sangat erat tujuannya dengan tujuan Pengembangan Sumber Daya Anggota IKAMI SULSEL dan juga tujuan IKAMI SULSEL secara umum.

Pelatihan-pelatihan IKAMI SULSEL diarahkan untuk mengembangkan potensi-potensi dasar anggota IKAMI SULSEL dalam rangka mencapai tujuan organisasi.

1.1 Jenis-jenis Pelatihan

1.1.1 Pelatihan Formal

Pelatihan formal merupakan pelatihan berjenjang yang diikuti oleh anggota, dimana jenjang pertama meupakan persyaratan untuk mengikuti jenjang selanjutnya. Pelatihan formal IKAMI SULSEL terdiri dari Latihan Kebudayaan dan Kepemimpinan Dasar (LKKD) dan Latihan Kebudayaan dan Kepemimpinan Lanjut (LKKL).

1.1.2 Pelatihan Informal

Pelatihan informal IKAMI SULSEL adalah pelatihan yang dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan serta kemampuan anggota dalam hal kepemimpinan dan keorganisasian. Pelatihan ini terdiri atas Pelatihan Pemandu LKK, Achievement Motovation Training (AMT), Up-Grading Kepengurusan, Up-Grading Kesekretariatan, Up-Grading Kebudayaan, dan lain sebagainya. Jenis pelatihan ini akan dibahas pada bab tersendiri.

1.2 Target Pelatihan Formal

1.2.1 Latihan Kebudayaan dan Kepemimpinan Dasar (LKKD)

· Memiliki kesadaran sejarah tentang Sulawesi Selatan maupun IKAMI SULSEL.

· Memiliki kemampuan dasar untuk meningkatkan intelektualitas dalam mencari kebenaran.

· Memahami konsep Siri’ na Pacce.

· Memiliki kemampuan dasar berorganisasi dan kepemimpinan.

1.2.2 Latihan Kebudayaan dan Kepemimpinan Lanjut (LKKL)

· Dapat merefleksikan sejarah Sulawesi Selatan dan IKAMI SULSEL ke masa depan.

· Dapat merefleksikan kebudayaan Sulawesi Selatan dalam hubungannya dengan budaya-budaya lain di Indonesia maupun dunia.

· Dapat memanfaatkan kemampuan kepemimpinan dan organisasional untuk merekayasa organisasi.

· Dapat merumuskan pola rekayasa masyarakat untuk mencapai masyarakat yang lebih baik.

2 Manajemen Pelatihan

2.1 Metode Penerapan Kurikulum

Dalam penjelasan lebih lanjut akan kita temukan kurikulum pelatihan yang memuat materi-materi yang nantinya akan menjadi materi wajib pada pelatihan-pelatihan formal yang diselenggarakan oleh IKAMI SULSEL. Kurikulum ini merupakan penggambaran tentang metode dari pelatihan karena akan menentukan metode yang diaplikasikan dalam penyelenggaraan pelatihan nantinya.

Dalam hal ini, dalam penerapan kurikulum pelatihan nantinya perlu diperhatikan beberapa aspek:

1. Penyusunan jadwal materi pelatihan.

Jadwal materi pelatihan merupakan hal yang sangat penting karena menggambarkan isi dan bentuk pelatihan. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyusun jadwal pelatihan adalah sebagai berikut:

· Urutan materi-materi yang disampaikan harus diperhatikan. Dalam urutan yang disusun, tiap-tiap materi harus harus memiliki korelasi dengan materi sebelum dan sesudahnya dan tidak berdiri sendiri (azas integratif). Dengan demikian materi-materi yang disajikan dalam pelatihan selalu mengenal prioritas dan pemberian materi berjalan sistematis dan terarah. Cara seperti ini akan menolong peserta untuk memahami materi-materi dalam pelatihan secara menyeluruh dan terpadu.

· Materi-materi yang disusun dalam jadawal pelatihan harus disesuaikan dengan jenis dan jenjang pelatihan.

2. Cara atau bentuk penyampaian materi pelatihan.

Cara dan bentuk penyampaian materi pelatihan sangat berkaitan dengan jenjang pelatihan dan isi materi serta akan menentukan seberapa besar peserta mengerti materi dan mencapai tujuan yang ingin dicapai dalam setiap materi. Penyampaian materi dengan ceramah, diskusi, brainstorming maupun penugasan sangat bergantung pada jenis materi yang diberikan dan tingkat pengetahuan peserta pelatihan. Cara yang nantinya dipilih diharapkan akan dapat membawa peserta pada pemahaman mendalam akan materi yang disampaikan dan menjamin pencapaian tujuan penyampaian materi yang bersangkutan.

3. Adanya penyegaran kembali dalam gagasan-gagasan kreatif dari para instruktur.

Sedapat mungkin, dalam forum pelatihan nantinya para instruktur dan Master of Training hanya bertindak sebagai pioneer dalam memunculkan gagasan-gagasan kreatif, dan selebihnya forum lah yang mengembangkan dan menyegarkan kembali gagasan-gagasan tersebut. Hal ini untuk menghindari penyampaian materi secara indoktrinatif dan absolutistic sehingga dapat mengembangkan kemampuan peserta sebesar-besarnya.

4. Usaha dalam menumbuhkan antusiasme dari semua komponen yang terlibat dalam pelatihan.

Keberhasilan sebuah pelatihan sangat ditentukan oleh berfungsinya setiap komponen pelatihan; mulai dari peserta, Organizing Committee (OC), Steering Committee (SC) dan juga Master of Training (MT). Untuk itu, diperlukan kreatifitas dari semua fihak agar menjaga kondusifitas pelatihan serta antusiasme dari setiap personal yang terlibat.

5. Terciptanya kondisi yang setara antara semua individu yang terlibat dalam pelatihan.

Dalam pelatihan, semua orang harus diposisikan sebagai subjek pelatihan dan bukan objek pelatihan, termasuk peserta. Hal ini diperlukan agar semua fihak jadi merasa bertanggungjawab pada kesuksesan pelatihan. Dengan perlakuan yang setara, maka sekat-sekat psikologis dapat dikurangi sehingga akan meekatkan hubungan setiap personal yang terlibat.

6. Adanya keseimbangan dan keharmonisan antarjenjang pelatihan.

Diantara jenjang pelatihan ada perbedaan materi, metode penyampaian dan pembobotan hal-hal yang disampaikan. Untuk itu perlu diperhatikan harmonisasi dan keseimbangan antar-jenjang agar menjamin kesinambungan pola penjenjangan pelatihan.

2.2 Kurikulum Pelatihan

2.2.1 Materi Latihan Kebudayaan dan Kepimimpinan Dasar

1. Sejarah Sulawesi Selatan

v Tujuan Pembelajaran Umum

Peserta dapat mengerti sejarah perjalanan Sulawesi Selatan beserta dinamika yang terjadi dari masa ke masa.

v Tujuan Pembelajaran Khusus

1. Peserta dapat menjelaskan secara singkat perjalanan kerajaan-kerajaan besar di Sulawesi Selatan.

2. Peserta dapat menjelaskan kronologi masuknya Sulawesi Selatan ke dalam NKRI.

3. Peserta mengerti perkembangan masyarakat Sulawesi Selatan sejak proklamasi kemerdekaan hingga sekarang.

v Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan

1. Pengantar Ilmu Sejarah.

1.1. Pengertian ilmu sejarah.

1.2. Manfaat dan kegunaan mempelajari sejarah.

2. Sulawesi Selatan dalam masa kerajaan.

2.1. Perjalanan empat kerajaan besar.

2.2. Masa penjajahan Belanda.

3. Sulawesi Selatan dalam masa transisi kemerdekaan RI.

3.1. Masa Republik Indonesia Serikat.

3.2. Penyatuan Sulawesi Selatan dalam NKRI.

4. Sulawesi Selatan di masa orde lama dan orde baru.

4.1. Pemberontakan-pemberontakan di Sulawesi Selatan.

4.2. Sulawesi dalam pemerintahan Orde Baru.

5. Sulawesi Selatan di masa sekarang.

5.1. Potensi ekonomi dan sosial politik Sulawesi Selatan.

5.2. Perkembangan kebudayaan Sulawesi Selatan.

v Metode

Ceramah, Tanya jawab, Diskusi.

v Evaluasi

Memberikan test objektif/subjektif dan penugasan dalam bentuk resume.

v Referensi

1. Christian Pelras; Manusia Bugis

2. Leonard Andaya; Arung Palakka

3. .

4. .

5. .

2. Ke-IKAMI-an

v Tujuan Pembelajaran Umum

Peserta memahami perjalanan IKAMI SULSEL dari masa ke masa.

v Tujuan Pembelajaran Khusus

1. Peserta dapat menjelaskan latar belakang berdirinya IKAMI SULSEL.

2. Peserta dapat menjelaskan perkembangan IKAMI SULSEL.

3. Peserta dapat menjelaskan hal-hal penting dalam konstitusi IKAMI SULSEL.

v Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan

1. Latar belakang berdirinya IKAMI SULSEL

1.1. Kondisi sosial politik pada masa menjelang terbentuknya IKAMI SULSEL.

1.2. Visi dan Misi para pendiri IKAMI SULSEL.

2. IKAMI SULSEL dari masa ke masa

2.1. Beberapa peristiwa penting yang menandai perjalanan IKAMI SULSEL.

2.2. Perkembangan IKAMI SULSEL dilihat dari perkembangan wacana dan tujuan organisasi.

3. Konstitusi IKAMI SULSEL

3.1. Masalah keanggotaan

3.2. Masalah struktur kekuasaan

3.3. Masalah struktur kepemimpinan

3.4. Aturan-aturan lain dalam organisasi

v Metode

Ceramah, studi kasus, diskusi, seminar, Tanya jawab

v Evaluasi

Melaksanakan test objektif/subjektif dan penugasan

v Referensi

1. Hasil-hasil Mubes IKAMI SULSEL

2. Sumber-sumber lain yang dapat dipertanggungjawabkan.

3. Pengantar filsafat ilmu

v Tujuan Pembelajaran Umum

Peserta dapat menjelaskan hakikat ilmu pengetahuan dan memanfaatkannya untuk berfikir kritis.

v Tujuan Pembelajaran Khusus

1. Peserta dapat menjelaskan hakikat ilmu pengetahuan dan proses mendapatkan ilmu pengetahuan.

2. Peserta dapat menyebutkan kesalahan-kesalahan berfikir.

3. Peserta dapat menerapkan metode berfikir kritis.

v Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan

1. Pengantar filsafat ilmu.

1.1. Hakikat ilmu pengetahuan.

1.2. Metode pencarian ilmu pengetahuan.

2. Kesalahan-kesalahan berfikir.

2.1. Jenis-jenis kesalahan berfikir.

2.2. Menghindari kesalahan-kesalahan berfikir.

3. Berfikir kritis.

3.1. Urgensi berfikir kritis.

3.2. Metode berfikir kritis.

v Metode

Ceramah, diskusi, simulasi.

v Evaluasi

Melaksanakan test objektif/subjektif dan penugasan.

v Referensi

1. Jalaluddin rakhmat; Rekayasa Sosial: Reformasi atau Revolusi, Rosda Karya, 1999.

2. .

3. .

4. .

5. .

4. Ideologi-ideologi dunia

v Tujuan Pembelajaran Umum

Peserta dapat memahami ideologi-ideologi dunia serta dasar pemikiran yang mendasari terbentuknya ideologi tersebut

v Tujuan Pembelajaran Khusus

1. Peserta dapat menyebutkan aliran pemikiran yang mendasari ideologi.

2. Peserta dapat menjelaskan poin-poin penting dalam setiap ideologi.

3. Peserta dapat memahami hubungan antara ideologi dan budaya.

v Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan

1. Aliran-aliran pemikiran

1.1. Materialisme

1.2. Rasionalisme

1.3. Metafisika

2. Ideologi-ideologi dunia

2.1. Sosialisme

2.2. Kapitalisme

2.3. Nasionalisme

3. Ideology dan budaya

3.1. Perbandingan antara ideologi dan budaya.

3.2. Peran ideologi dan budaya dalam perubahan sosial.

v Metode

Ceramah, diskusi, brainstorming.

v Evaluasi

Test objektif/subjektif dan penugasan.

v Referensi

1. .

2. .

3. .

4. .

5. .

5. Dasar-dasar kebudayaan

v Tujuan Pembelajaran Umum

Peserta dapat memahami substansi dan esensi Siri’ na Pacce dalam kehidupan.

v Tujuan Pembelajaran Khusus

1. Peserta dapat memahami fitrah manusia sebagai ciptaan Tuhan

2. Peserta dapat memahami Patang Sulapa/Eppa’ Sulape’ dalam hubungannya dengan Fitrah manusia dan sebagai unsur penyusun Siri’.

3. Peserta dapat memahami hubungan antara Siri’ dan Pacce.

4. Peserta dapat memahami falsafah-falsafah lain yang merupakan turunan dari Siri’ na Pacce.

v Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan

1. Landasan Pemikiran

1.1. Keharusan mempercayai penciptaan manusia

1.2. Fitrah sebagai bagian dari penciptaan manusia

2. Patang Sulapa/Eppa’ sulape’

2.1. Kalambussang/Lempu’ (kejujuran)

2.2. Kabaraniang/Warani (keberanian)

2.3. Kacaraddekang/Macca (cerdas)

2.4. Kakalumanynyangngang/Sogi’ (kekayaan)

3. Siri’ na Pacce

3.1. Patang Sulapa’/Eppa Sulape’ sebagai unsur penyusun Siri’

3.2. Pacce sebagai Siri’ sosial

4. Falsafah-falsafah lain.

4.1. Taro ada, taro gau..

4.2. Dsb…

v Metode

Ceramah, brainstorming, diskusi.

v Evaluasi

Test ojektif/subjektif dan penugasan.

v Referensi

1. Dasar-dasar Kebudayaan IKAMI SULSEL

2. Murtadha Muthahhari; Fitrah

3. H.A. Aminuddin Salle; Rekaman Elit awal Kepemimpinan Karaeng Galesong.

4. .

5. .

6. Kepemimpinan

v Tujuan Pembelajaran Umum

Peserta dapat mengetahui pengertian, tujuan dan fungsi kepemimpinan.

v Tujuan Pembelajaran Khusus

1. Peserta dapat mengetahui definisi kepemimpinan.

2. Peserta dapat mengetahui tujuan dan fungsi kepemimpinan.

3. Peserta dapat memahami tipe-tipe kepemimpinan

v Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan

1. Kepemimpinan.

1.1. Definisi kepemimpinan

1.2. Mengembangkan kepemimpinan.

2. Tujuan dan fungsi kepemimpinan.

2.1. Tujuan kepemimpinan

2.2. Fungsi-fungsi kepemimpinan dalam organisasi.

3. Tipe-tipe kepemimpinan.

3.1. Tipe-tipe kepemimpinan

3.2. Aspek komunikasi sosial dalam kepemimpinan.

v Metode

Ceramah, diskusi, brainstorming.

v Evaluasi

Test objektif/subjektif dan penugasan.

v Referensi

1. Mifta Thoha; Kepemimpinan dan Manajemen, Rajawali Press, 1995

2. Dr. Ir. S.B. Lubis & Dr. Martani Hoesaini; Teori Organisasi: Suatu pendekatan Makro, Pusat Studi antar Universitas Ilmu-ilmu Sosial Universitas Indonesia, 1987.

3. Winardi; Kepemimpinan Manajemen, Rineka Cipta, 1990.

4. .

5. .

7. Manajemen organisasi

v Tujuan Pembelajaran Umum

Peserta dapat memahami pengertian organisasi dan manajemen organisasi.

v Tujuan Pembelajaran Khusus

1. Peserta dapat mengetahui pengertian organisasi

2. Peserta dapat mengetahui dasar-dasar, fungsi dan tujuan manajemen.

v Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan

1. Organisasi.

1.1. Teori-teori organisasi.

1.2. Bentuk-bentuk organisasi.

1.3. Struktur organisasi.

2. Manajemen organisasi.

2.1. Dasar-dasar manajemen.

2.2. Model-model manajemen.

2.3. Beberapa fungsi manajemen.

2.4. Model-model analisis yang biasa dipakai dalam manajemen.

3. Organisasi dan manajemen konflik

3.1. Konflik sebagai bagian dari organisasi.

3.2. Manajemen konflik dasar.

v Metode

Ceramah, diskusi, simulasi dan penugasan.

v Evaluasi

Test objektif/subjektif dan penugasan.

v Referensi

1. .

2. .

3. .

4. .

5. .

8. Teknik Persidangan

v Tujuan Pembelajaran Umum

Peserta dapat menjalankan sidang sesuai aturan yang berlaku.

v Tujuan Pembelajaran Khusus

1. Peserta dapat mengetahui kelengkapan sidang.

2. Peserta mengetahui aturan-aturan dalam persidangan.

3. Peserta dapat melakukan persidangan menurut aturan yang berlaku.

v Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan

1. Kelengkapan-kelengkapan sidang.

1.1. Peserta siding dan pimpinan sidang.

1.2. Kelengkapan-kelengkapan teknis dalam sidang.

2. Aturan-aturan persidangan.

2.1. Jenis-jenis interupsi.

2.2. Aturan penggunaan palu sidang.

2.3. Aturan-aturan lain.

3. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam persidangan.

3.1. Faktor-faktor yang mempengaruhi persidangan.

3.2. Mencapai kemenangan dalam persidangan.

v Metode

Ceramah, diskusi, simulasi dan penugasan.

v Evaluasi

Test objektif/subjektif dan penugasan.

2.2.2 Materi Latihan Kebudayaan dan Kepemimpinan Lanjut

1. Pendalaman Sejarah Sulawesi Selatan

v Tujuan Pembelajaran Umum

Peserta dapat merefleksikan sejarah Sulawesi Selatan untuk merekayasa masyarakat di masa depan.

v Tujuan Pembelajaran Khusus

1. Peserta dapat mengerti kondisi sosial-politik-budaya dalam setiap fase perkembangan Sulawesi Selatan.

2. Peserta dapat memahami pergolakan-pergolakan yang pernah terjadi di Sulawesi Selatan.

3. Peserta dapat merancang perekayasaan masyarakat Sulawesi Selatan di masa depan.

v Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan

1. Fase-fase perkembangan masyarakat Sulawesi Selatan.

1.1. Fase kerajaan.

1.2. Fase transisi kemerdekaan.

1.3. Fase Orde Lama dan Orde Baru.

1.4. Fase Orde Reormasi hingga sekarang.

2. Masa-masa pergolakan dalam perkembangan masyarakat Sulawesi Selatan.

2.1. Dinamika hubungan antar kerajaan sebelum kemerdekaan.

2.2. Pemberontakan Kahar Muzakkar.

2.3. Pemberontakan Andi Azis.

2.4. Pemberontakan PRRI-Permesta.

3. Analisa tipologi masyarakat Sulawesi Selatan.

3.1. Analisa tipologi masyarakat Sulawesi Selatan.

3.2. Rancangan rekayasa perkembangan masyarakat Sulawesi Selatan.

v Metode

Ceramah, diskusi, dinamika kelompok dan penugasan.

v Evaluasi

Test subjektif dan penugasan.

v Referensi

1. Christian Pelras; Manusia Bugis

2. .

3. .

4. .

5. .

2. Pendalaman Dasar-dasar kebudayaan

v Tujuan Pembelajaran Umum

Peserta dapat memahami dan mengaplikasikan Siri’ na Pacce secara luas dalam konteks berbangsa, bernegara dan perubahan sosial.

v Tujuan Pembelajaran Khusus

1. Peserta dapat memahami esensi Siri’ na Pacce dan pengaplikasiannya dalam kehidupan sosial.

2. Peserta dapat memahami dan mengaplikasikan falsafah-falsafah turunan Siri’ na Pacce dalam kehidupan sosial.

3. Peserta dapat memahami esensi yang mempertemukan Siri’ na Pacce dengan berbagai budaya dan mengaplikasikannya untuk perubahan sosial.

v Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan

1. Penciptaan dan peran-fungsi manusia yang mengiringi penciptaan.

1.1. Peran dan fungsi manusia dalam kehidupan sosial.

1.2. Hak dan tanggungjawab manusia dalam masyarakat.

2. Siri’ na Pacce dan kehidupan sosial.

2.1. Siri’ na Pacce sebagai parameter hubungan sosial.

2.2. Falsafah-falsafah lain yang berkaitan dengan aturan sosial.

3. Siri’ na Pacce dan ragam kebudayaan dunia.

3.1. Esensi budaya dalam Siri’ na Pacce.

3.2. Perbandingan antara Siri’ na Pacce dan esensi kebudayaan lain.

4. Siri’ na Pacce dan Perubahan Sosial.

4.1. Budaya sebagai salah satu penggerak perubahan sosial.

4.2. Siri’ na Pacce dan model perubahan sosial.

v Metode

Ceramah, diskusi, dinamika kelompok dan penugasan.

v Evaluasi

Test subjektif dan penugasan.

v Referensi

1. Dasar-dasar Kebudayaan IKAMI SULSEL

2. ……..

3. .

4. .

5. .

3. Kepemimpinan

v Tujuan Pembelajaran Umum

Peserta dapat memahami dan mengembangkan model-model kepemimpinan dalam organisasi dan masyarakat.

v Tujuan Pembelajaran Khusus

1. Peserta dapat memahami model-model kepemimpinan dan penerapannya dalam organisasi

2. Peserta dapat memahami peran dan tanggungjawab pemimpin.

v Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan

1. Model-model kepemimpinan.

1.1. Model-model kepemimpinan.

1.2. Syarat-syarat kepemimpinan

1.3. Gaya kepemimpinan dalam organisasi dan masyarakat.

2. Peran dan tanggungjawab pemimpin.

2.1. Peran pemimpin dalam tugas-tugas manajemen.

2.2. Tanggungjawab pemimpin dalam organisasi dan kemasyarakatan.

2.3. Beberapa hambatan kultural dan struktural.

v Metode

Ceramah, brainstorming, diskusi dan penugasan.

v Evaluasi

Test subjektif dan penugasan.

v Referensi

1. .

2. .

3. .

4. .

5. xxxxxx

4. Manajemen Organisasi

v Tujuan Pembelajaran Umum

Peserta dapat menerapkan prinsip-prinsip manajemen organisasi, menganalisa dan mengembangkan organisasi serta menggunakan konflik untuk meningkatkan produktifitas organisasi.

v Tujuan Pembelajaran Khusus

1. Peserta dapat memahami langkah-langkah pelaksanaan manajemen organisasi.

2. Peserta dapat menganalisa kondisi organisasi untuk kemudian meyusun rencana pengembangan organisasi.

3. Peserta dapat menggunakan metode manajemen konflik.

v Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan

1. POACE dalam manajemen organisasi

1.1. Planning (perencanaan)

1.2. Organizing (pengaturan)

1.3. Actuating (pelaksanaan)

1.4. Controlling (pengendalian)

1.5. Evaluating (evaluasi)

2. Analisa Kondisi Organisasi – Rencana Pengembangan Organisasi

2.1. Analisa Kondisi Organisasi dengan metodologi SWOT.

2.2. Rencana Pengembangan Organisasi dengan menggunakan hasil dari Analisa Kondisi Organisasi.

3. Manajemen Konflik.

3.1. Tahapan-tahapan konflik.

3.2. Bentuk-bentuk penyelesaian konflik.

3.3. Rekayasa konflik dalam organisasi.

v Metode

Ceramah, diskusi, dinamika kelompok dan penugasan.

v Evaluasi

Test subjektif dan penugasan.

v Referensi

1. .

2. .

3. .

4. .

5. .

5. Rekayasa Sosial

v Tujuan Pembelajaran Umum

Peserta dapat memahami faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan sosial dan metode pencapaiannya.

v Tujuan Pembelajaran Khusus

1. Peserta dapat memahami faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan sosial.

2. Peserta dapat memahami konsep rekayasa sosial.

3. Peserta dapat merencanakan rekayasa sosial.

v Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan

1. Perubahan sosial.

1.1. Definisi perubahan sosial.

1.2. Faktor-faktor penggerak perubahan sosial.

1.3. Hal-hal lain yang berhubungan dengan perubahan sosial.

2. Rekayasa sosial.

2.1. Proses-proses rekayasa sosial.

2.2. Metode rekayasa sosial dan proses perekayasaan.

2.3. Faktor-faktor yang menentukan keberhasilan sebuah perekayasaan social.

v Metode

Ceramah, diskusi, dinamika kelompok dan penugasan.

v Evaluasi

Test subjektif dan penugasan.

v Referensi

1. Jalaluddin Rakhmat; Rekayasa Sosial: Reformasi atau Revolusi.

2. .

3. .

4. .

5. .

2.3 Metode Pelatihan

Dengan memahami gambaran kurikulum dan aspek-aspek yang perlu diperhatikan diatas, maka metode yang tepat adalah penggabungan antara metode-metode berikut:

Ø Metode Ceramah, yaitu metode pemahaman materi melalui dialog/Tanya jawab antara peserta dengan pemateri.

Ø Metode Diskusi, yaitu metode pemahaman materi secara diskusif (pertukaran pemikiran yang bebas) dan komunikatif.

Ø Metode Kepemanduan, yaitu pemahaman materi dengan brainstorming peserta sehingga kesimpulan yang didapat berasal dari peserta sendiri.

Ø Metode Penugasan, yaitu pemahaman materi dengan mempergunakan keterampilan peserta dengan sasaran:

* Mempergunakan kemampuan-kemampuan tertentu

* Penulisan-penulisan

* Kerja lapangan

* Studi kasus

* Simulasi dan lain sebagainya.

Penggunaan sebuah metode harus selalu memperhatikan relevansi metode dengan materi yang disampaikan maupun kondisi peserta. Materi-materi dimana peserta telah mempunyai pengetahuan dasar tentangnya dapat disampaikan dengan metode kepemanduan maupun diskusi, tapi materi dimana peserta betul-betul buta harus diselingi dengan ceramah dari pemateri.

Hal yang perlu dicatat adalah bahwa setiap komponen pelatihan adalah subjek, termasuk peserta. Karena itu, setiap peserta tidak layak untuk diperlakukan sebagai objek yang hanya sekedar menerima materi dan mengikuti pelatihan tanpa dilibatkan dalam setiap kebijakan yang dibuat sepanjang pelatihan berlangsung. Peserta selayaknya difahamkan dari awal bahwa pelatihan yang diikuti adalah milik mereka dan menjadi tanggungjawab mereka. Untuk itu, sangat penting untuk melibatkan mereka dari sejak awal pengelolaan pelatihan; dalam penentuan aturan maupun dalam pengambilan keputusan atas masalah-masalah yang terjadi selama pelatihan berlangsung. Kebijaksanaan dari Master of Training tentu sangat diperlukan dalam hal ini, agar dapat mengarahkan peserta tanpa mengambil hak peserta untuk menentukan pilihan mereka sendiri. Pelibatan peserta dimaksudkan agar kondisi psikologis mereka tetap terjaga sehingga dapat mengembangkan pemikiran mereka sebebas mungkin dan mengembangkan potensi sebesar-besarnya.

Dalam hal penyampaian materi, hendaknya juga menyesuaikan dengan jenjang pelatihan dan target yang ingin dicapai dari setiap materi. Pada jenjang LKKD, target yang ingin dicapai lebih bersifat kognitif-afektif sehingga penyampaian materi lebih banyak pada penyadaran dan pengembangan kemampuan analisis peserta. Metode yang tepat untuk itu tentunya adalah diskusi dan brainstorming yang diselingi ceramah, serta penugasan yang bersifat analisis. Lain halnya dengan jenjang LKKL yang lebih bersifat kognitif-psikomotorik. Penyampaian materi pada jenjang ini selayaknya bersifat analisis praksis dan mengembangkan kemampuan analisis problematik dan alternatif dari peserta. Untuk itu, metode penyampaian seharusnya dengan ceramah singkat diikuti dialog yang mengarah pada analisis praksis serta penugasan yang nantinya menuntut peserta untuk menemukan akar permasalahan dan mencari alternatif penyelesaian yang applicable.

2.4 Evaluasi Pelatihan

a. Tujuan:

* mengukur tingkat keberhasilan pelatihan.

* sebagai bahan untuk perbaikan penyelengaraan pelatihan berikutnya.

b. Sasaran

* Kognitif

* Afektif

* Psikomotorik

c. Alat evaluasi

* Test objektif

* Test subjektif

* Test sikap

* Test keterampilan

d. Prosedur evaluasi

* Pre-Test

* Mid-Test

* Post-Test

* Penugasan

2.5 Pembobotan

a. LKKD : Kognitif :40%

Afektif :40%

Psikomotorik :20%

b. LKKL : Kognitif :40%

Afektif :20%

Psikomotorik :40%

3 Kualifikasi Instruktur

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, kualitas outcome dari pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh organisasi sangat ditentukan oleh berbagai faktor, diantaranya pengelolaan pelatihan. Salah satu bagian yang sangat berpengaruh adalah kualitas instruktur selaku pengelola pelatihan. Karena itu sangat penting untuk memperhatikan kualitas dari setiap instruktur; menetapkan kualifkasi yang tepat untuk keperluan dimaksud dan mengusahakan agar setiap instruktur dapat memenuhi kualifikasi yang diinginkan.

Salah satu kualifikasi yang sangat penting adalah penguasaan materi oleh instruktur. Untuk itu sangat diharapkan agar instruktur dipilih dari personal-personal yang telah mengikuti jenjang pelatihan dimana materi dimaksud diberikan. Dan kalaupun hal ini tidak dapat dipenuhi dengan alasan-alasan yang dapat diterima, maka sebaiknya pengurus sebagai penanggung jawab pelatihan dapat menyediakan fasilitas agar para instruktur bisa memperoleh pengetahuan dimaksud.

Kualifikasi selanjutnya adalah penguasaan teknik-teknik dasar yang diperlukan dalam mengelola pelatihan. Teknik-teknik dasar itu meliputi teknik penguasaan forum, teknik penyampaian materi, teknik pengaturan suasana pelatihan, teknik pemberian penilaian dan lain sebagainya. Karena itu, menjadi sebuah keharusan bagi intruktur untuk mengikuti pelatihan-pelatihan yang menunjang kemampuan ini sebelum menjadi instruktur pelatihan formal di IKAMI SULSEL. Sangat baik bila pengurus telah dapat menyediakan pelatihan instruktur yang khusus disiapkan bagi pengelolaan pelatihan formal IKAMI SULSEL. Namun bilapun hal ini tidak tersedia, maka para instruktur yang dipilih harus telah mengikuti pelatihan sejenis di organisasi maupun institusi lain. Pelatihan-pelatihan yang seperti dimaksud adalah seperti Training For Trainer (TFT), Senior Course (Pelatihan Instruktur), Pelatihan Pemandu (PP) LKMM, atau pelatihan-pelatihan dengan nama berbeda namun membeikan keterampilan pengelolaan pelatihan dan pemberian materi.

BAB III. PELATIHAN INFORMAL IKAMI SUL-SEL

Pelatihan informal IKAMI SULSEL adalah pelatihan yang dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan serta kemampuan anggota dalam hal kepemimpinan dan keorganisasian. Pelatihan ini terdiri atas Pelatihan Pemandu LKK, Achievement Motovation Training (AMT), Up-Grading Kepengurusan, Up-Grading Kesekretariatan, Up-Grading Kebudayaan, dan lain sebagainya.

Dalam hal ini, pelatihan dibedakan dalam dua jenis; Up-Grading yang berhubungan dengan teknis penanganan organisasi, dan pelatihan Informal lain yang berhubungan dengan kemampuan tambahan yang diperlukan anggota.

1 Up Grading

Up-Grading adalah jenis pelatihan informal IKAMI SULSEL yang berkaitan dengan peningkatan kemampuan teknis organisasi. Hal ini diperlukan agar ada keseragaman pelaksanaan tugas-tugas organisasional antara unit-unit organisasi sehingga mengurangi kesalahpahaman yang disebabkan oleh perbedaan-perbedaan teknis.

Beberapa jenis Up-Grading yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:

1.1 Up Grading Kepengurusan

Kurikulum menunggu penyusunan Pedoman Kerja Kepengurusan oleh PB IKAMI SULSEL.

1.2 Up Grading Kesekretariatan

Kurikulum menunggu penyusunan Pedoman Kerja Kesekretariatan oleh PB IKAMI SULSEL.

1.3 Up Grading Kebendaharaan

Kurikulum menunggu penyusunan Pedoman Kerja Kebendaharaan oleh PB IKAMI SULSEL.

1.4 Up Grading Dasar-dasar Kebudayaan

Pendalaman dari hal-hal yang tidak dipahami dari LKKD maupun LKKL

1.5 Up Grading Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi

Pendalaman dari materi LKKD maupun LKKL, serta mempertajam metode-metode analisa melalui latihan-latihan studi kasus.

2 Pelatihan Informal Lain

Adapun untuk pelatihan informal lain, diberikan untuk melengkapi materi-materi yang telah diberikan pada LKKD dan LKKL maupun pada Up-Grading. Materi dan bentuk pelatihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan karakter masing-masing cabang di IKAMI SULSEL.

Beberapa pelatihan yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:

1. Pelatihan Instruktur.

2. Pelatihan Jurnalistik.

3. Pelatihan Karya Tulis Ilmiah.

4. Pelatihan Motivasi.

5. Pelatihan Enterpreneur.

6. Dan lain sebagainya.

Tuesday, July 14, 2009

hujan...

Aku selalu menyukai hujan. Mungkin menyukai perasaan sentimentil yang dibawanya, memberiku kesempatan untuk sedikit "merasa". Tapi aku benar-benar suka, melihat alam begitu teduh disiram air secara teratur. Aku suka angin dingin yang biasa menyertainya. Aku suka bau tanah basah, aliran air menuju segala arah, dan suara guruh yang meningkahinya.

Aku suka mengamati orang-orang menanggapi turunnya hujan; mereka yang berusaha melindungi diri maupun yang menerimanya, mereka yang berlari menghindari maupun yang menerobosnya. Aku suka melihat tanggapan alam atas curahan butiran-butirannya; melihat sungai yang bersemangat dan tanah becek yang muram, aspal yang pasrah dan daun yang tunduk atas karuniaNya.

Dan ternyata saat hujan merupakan saat yang mustajabah untuk berdo'a padaNya. Mungkin karena perasaan sentimentil yang mudah dirasakan saat hujan datang. Mungkin karena manusia yang berfikir akan merasa kecil atas sistem alam yang dibuatNya. Mungkin karena manusia jadi menyadari keberadaan makhluk dan benda lain disekitarnya pada saat hujan. Bunyi hujan menempa benda apapun menyampaikan keberadaan benda itu pada kita. Kita jadi meresapi keberadaan pohon, atap, mobil, motor, aspal, tanah yang tak rata, rumah, jendela, baju, manusia-manusia lain, makhluk-makhluk selain manusia, ataupun kekasih yang merapat dalam pelukan saat menerobos hujan.

Aku suka hujan, dan kenangan bersama hujan...

Naruto, Bleach, dan Onepiece

Bagi para penyuka Manga (komik jepang), tiga nama yg ada dalam judul diatas bukanlah hal yang asing didengar. Naruto, Ichigo dan Luffy yang menjadi tokoh utama dalam masing2 cerita adalah tokoh2 konyol tapi inspiratif. Naruto adalah seorang ninja muda yang pantang menyerah, Ichigo adalah sub-shinigami (death-God) yang secara insidental menyadari kekuatannya, dan Luffy adalah kapten kapal bajak laut dengan kekuatan Karet.

Yang menarik adalah pandangan eskatologis (hidup sesudah mati) mereka yang berbeda namun punya corak yang mirip; negasi keberadaan Tuhan.

Naruto, mempercayai Will of Fire sebagai inspirator gerakan dan jiwa dari semua tindakan mereka. Bahkan dalam salah satu episode, Shikamaru (sahabat Naruto) diceritakan membunuh salah satu musuh mereka (yang menganut "agama") sambil berkata bahwa dia tidak peduli pada ada atau tidaknya Tuhan, karena dia hanya percaya pada Will of Fire dalam dadanya.

Bleach malah mengambil hal eskatologis sebagai temanya. Diceritakan bahwa Ichigo adalah Shinigami (malaikat maut) pengganti yang bertugas mengantarkan jiwa2 dari dunia ke Soul Society, dimana para roh kembali menjalani hidup sebagaimana mereka jalani di dunia. Bedanya, strata sosial ditentukan oleh kekuatan spiritual. Para shinigami di Soul Society adalah pengatur mutlak kehidupan para roh. Tuhan benar-benar tidak punya tempat apa2 disana.

Onepiece lain lagi. Luffy yang memimpin kawan2 bajak lautnya suatu ketika mampir ke Kerajaan Langit. Disana dia bertempur dengan God Enel yang memerintah kerajaan langit (dan bersenjatakan petir) lalu berhasil mengalahkannya. Kerajaan Langit pun dikisahkan berasal dari bagian tanah bumi yang dilontarkan ke langit, dan penduduknya juga adalah keturunan bangsa manusia bumi. God Enel adalah invasor yang tidak jelas asalnya dan kemudian menjajah para penduduk kerajaan langit. Di sini, Tuhan tidak lebih dari olok2an, bahkan dikalahkan manusia.

Tiga manga diatas adalah manga2 yang sangat menarik sehingga laris dikonsumsi. Memang, ajaran tentang persahabatan, semangat pantang menyerah, percaya pada diri sendiri adalah ajaran2 utama dalam komik ini. Tapi negasi keberadaan Tuhan adalah hal yang juga patut diantisipasi.

Saya tidak menyarankan untuk memboikot manga-manga ini, tapi sebaiknya dipelajari. Dan tak lupa juga pelajari counter wacananya, agar bisa menjelaskan pemahaman-pemahaman komikal pada anak2 kita yang mungkin akan menjadi konsumennya.

kenangan

Ada saat-saat dimana aku terpaku pada kenangan. Saat dimana aku menyendiri ataupun dalam keramaian, saat dimana bumi berputar cepat ataupun melambat. Ada saat dimana banyak kenangan berkelebat saling menonjolkan diri, ada pula saat hanya satu kenangan yang tergambar senyata-nyatanya. Ada saat dimana aku tidak bisa menemukan diriku didalamnya, saat kulihat diriku jelas menjadi, kenangan yang ingin kuselami dalam-dalam sampai terasa hilang diriku, kenangan yang kuingin lari darinya, kenangan yang ingin kupatri jelas di ingatan, begitupun yang ingin kubuang jauh.

Kata orang bijak, kenangan lah yang membentuk diri kita saat ini. Kenangan menggambarkan apa yang telah dilalui sepanjang hidup, membentuk pola pikir dan pola sikap kita atas setiap situasi yang kita hadapi sekarang ataupun nanti. Dari kenangan, kita belajar tentang cara kita menghadapi masa lalu untuk kemudian menentukan cara kita memilih dan menghadapi masa depan. Dari kenangan, kita mengetahui kesalahan-kesalahan yang telah pernah kita lakukan untuk bisa memperbaikinya di masa depan. Dengan kenangan pula, kita mengetahui sejauh mana kita mengerti akan hidup dan sebaik apa kita menyempurna.

Meski ada pula saat aku hanya ingin menikmati kenangan tanpa harus belajar apapun darinya. Aku hanya ingin mengenang tanpa berfikir, sekedar mengingat kembali masa lalu. Membayangkan semua tanpa harus merasa bersalah ataupun merasa bangga. Tapi pada akhirnya membawaku pada kesimpulan; aku adalah apa yang kupilih untuk kulakukan saat ini, bukan apa yang pernah kulakukan di masa lalu. Jadi, apakah kenangan itu?

Hanya untuk saat ini, aku benar-benar tak ingin berfikir.
Saat ini, aku mengenang hanya untuk merindukan.

Saturday, March 21, 2009

dari buku: "ISLAM KIRI - Jalan Menuju Revolusi Sosial"

Buku ini adalah seri kedua dari tiga seri yang direncanakan oleh sang penulis; Eko Prasetyo, diterbitkan oleh insist press pada tahun 2003.

Dimulai dengan penegasan penulis tentang keimanan yang kiri yang menjadi pilihannya dan kenapa memilihnya, dan penegasan tentang Revolusi sebagai doktrin perjuangan. Praktis, sepanjang buku ini kita akan "digiring" untuk berfikir berdasar realitas sosial yang dipenuhi ketidakadilan hasil rekayasa untuk menuju Revolusi sebagai sebuah alat perjuangan yang nyaris niscaya.

Bab pertama memberi kita wawasan tentang contoh revolusi sosial dalam dinamika gerakan Islam. Penulis mencontohkan Revolusi Iran dan Gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Keduanya berasal dari akar yang sama; keyakinan bahwa Islam adalah pembela kaum mustadh'afin -kaum tertindas-, dan keyakinan akan kebenaran Islam meniscayakan perlawanan kepada Tirani yang menindas. Walaupun keduanya berasal dari pemahaman fikih Islam yang berbeda, tapi mereka kemudian memilih jalan revolusi sebagai perjuangan untuk mencapai tujuan.

Bab kedua menceritakan perkembangan kapitalisme yang sekarang diidentifikasi sebagai penyebab dari kekacauan tatanan peradaban yang sehat, sebagai pihak penindas. Teori-teori yang melandasi beserta tahapan-tahapan evolusi dari kapitalisme dikupas dengan cukup lugas. Penulis menceritakan betapa para pemilik kapital mempersiapkan dan menggerakkan alat-alat mereka untuk menghegemoni berbagai negara di dunia. IMF dan WTO serta berbagai organisasi "donor" adalah alat negosiasi yang ampuh karena mereka berpengalaman dalam negoisasi dan dasar-dasar teori "perbaikan ekonomi" yang sebenarnya hampa. Dan Multinational Corporations (MNCs) menjadi pihak-pihak yang menjadi eksekutor saat para negara penerima bantuan kemudian menyerahkan dirinya secara baik-baik untuk dijajah.

Kemudian penulis menyodorkan sejarah dan pergulatan konsep Revolusi, dengan contoh berbagai revolusi di dunia dan Indonesia sendiri. Dengan menganalisis berbagai peristiwa Revolusi dunia, penulis menyimpulkan berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan sebuah revolusi. Yang pertama adalah kemampuan untuk mengintegrasikan semua kekuatan dalam melawan arus kontrarevolusi, dan yang tak kalah penting adalah dukungan dan keterlibatan negara lain, terutama dalam membantu perekonomian pasca revolusi. Ini bermakna bahwa keberhsailan suatu revolusi sangat ditentukan dari bagaimana kelompok kaum revolusioner mampu menghsilkan struktur kekuasaan yang lebih kuat, lebih terpusat, lebih birokratik dan lebih memiliki kekuasaan yang otonom di dalam maupun di luar negeri. Faktor kedua yang tak kalah penting adalah bagaimana kepemimpinan revolusioner mampu membangun organisasi-organisasi negara baru yang lebih kuat serta dukungan penuh baik secara ekonomi maupun militer dari luar negeri. Faktor ketiga adalah perubahan perubahan konfigurasi pada tatanan internasional. Kemudian penulis menarik hal ini pada sejarah perjalanan revolusi di Indonesia. Dari sana terlihat bahwasanya "KIRI" sangat memberi pengaruh dalam perjuangan kemerdekaan dan dalam membentuk kesadaran para tokoh nasional waktu itu akan perlunya perlawanan atas ketertindasan. Para pemuka kemerdekaan dari Tan Malaka hingga Hatta memiliki tambang pengetahuan dari konsep dan dasar ontologi marxis. Sejarah kemudian membuktikan bahwa Revolusi yang terjadi di Indonesia adalah perjalanan revolusi yang berjalan sendiri-sendiri; kaum kiri yang akan menegakkan masyarakat komunis dan kaum kanan yang hendak membangun tatanan yang sesuai dengan firman Tuhan. Sejarah Islam Kiri yang dulu pernah ditumbuhkembangkan oleh Haji Misbach dan beberapa saudaranya yang lain mungkin jadi salah satu jawaban andal.

Pada bab selanjutnya, penulis kemudian mengajukan tesis bagaimana memulai Revolusi Islam Kiri. Tahapan pertama adalah dengan mendorong kesadaran keagamaan: dari kesadaran magis menuju kesdaran revolusioner. Kesadaran Magis menganggap bahwa realitas sosial merupakan sesuatu yang telah 'dibentuk' oleh wahyu dan doktrin kitab suci. Orang-orang dengan kesadaran ini biasanya menganggap bahwa semua perubahan sosial merupakan hasil campur tangan Tuhan sepenuhnya., dan perubahan sosial dapat terjadi jika kehidupan dikembalikan pada masa lalu. Tingkatan kedua adalah Kesadaran Naif. Pada tingkatan ini, manusia menganggap realitas sosial merupakan sesuatu yang dibentuk oleh Tuhan dan kebiasaan individu. Dari anggapan ini, mereka kemudian menyimpulkan bahwa perubahan sosial mengandalkan tampilnya individu yang perilakunya sesuai dengan bunyi literer teks kitab suci, dan perubahan sosial yang diharapkan lebih berorientasi pada perbaikan kualitas individu. Tingkatan ketiga adalah Kesadaran Revolusioner. Kesadaran Revolusioner mengharuskan kita untuk melihat realitas sosial sebagai sesuatu yang dipengaruhi oleh aktor sosial juga struktur global seperti negara, modal dan senjata. Kemudian perubahan sosial yang akan dilakukan mengandalkan kemampuan untuk melihat struktur secara kritis dan mendorong wahyu dalam konteks 'inspirasi' dan 'spirit' pembebasan. dengan begitu, perubahan sosial yang dimulai dari kesadaran ini akan berorientasi pada terbentuknya gerakan sosial yang populis. Dalam mendorong perbahan kesadarn ini, ada beberapa tahapan yang kemudian diajukan, dan berujung pada perjuangan revolusioner untuk merebut kuasa politis maupun kultural yang dijalankan melalui sejumlah tindakan praksis. Untuk mendorong gerakan Islam disini menuju basis massa revolusioner, yang dilakukan pertama-tama adalah menetapkan akidah perjuangan dan penguatan organ. Motor untuk menggerakkan keduanya adalah ULAMA yang mengambil peran cendikiawan organik. Maka, Islam Indonesia perlu Pemimpin yang kuat, yang dapat menjalankan peran sebagai Ulama bagi rakyat tertindas, dan bukan hanya memimpin doa bersama bagi penguasa yang sudah nyata-nyata dzalim. Organisasi-organisasi Islam dalam hal ini harus dapat menafsir ulang segala bentuk doktrin atau teks dalam pembacaan yang militan, dan secara dialektis mampu memahami kaitan antara gejala ekonomi, nilai, dan prinsip gerakan sosial.

Akhirnya, Mas Eko Prasetyo mengajak kaum Muslimin di Indonesia untuk memulai revolusi, menyambut dengan busungan dada salah satu firmanNya: "Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang berdoa, 'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekkah) yang dzalim penduduknya dan berilah kami pelindung dan penolong dari sisiMu (An Nisa; 75)".

wallahu a'lam

Sunday, December 21, 2008

Untukmu Karaeng-ku

Bajimaki anne abbannang kebo’ karaeng
Naki bulomo sibatang
Cera’ sitongka-tongka
Nanipajappa nikanayya kuntutojeng
Assorong bokoi ero’na To tena kamasena
Aminasa dudutonga karaeng
Ampannepokangi pasorang
Ma’tanga parang
Ampanumbangngangi balembeng ma’bangkeng romang

Punna nia buranne karaeng rewanggang na inakke
Sere’lipa kuruai kusionjo’ tompo bangkeng
Kusikekke kamma lame kukamma mamo kicini karaeng
Tedong a’lagayya jarang sialle ganayya
Nampa kicinika Nh. Rifai Daeng Massuro
Campagana Bulukumba

Manna ka’kanying ilau
Bangkeng barakka kucini
Tamminasayya
Towali ri’turangangku
Eja tompiseng na doang karaeng
Tumbang tompi na nicini
Nanisombali tangkana sikalia



[sajak ini diadopsi dari janji I Mangngoppangi Daeng Ngutung dan I Pasanri Daeng Kancing di hadapan Karaeng Galesong]

Rekaman Awal Kepemimpinan Elit Lokal Karaeng Galesong

DR. H. Aminuddin Salle, SH., MH.
J. Bostan Daeng Mama’dja
Drs. Supriadi Hamdat, MA

Abstrak Makalah:

Galesong adalah sebuah komunitas yang cukup berperan dalam pentas sejarah Sulawesi Selatan, nama Galesong sudah tidak asing lagi terutama dalam hubungannya dengan kerajaan Gowa dalam menentang dominasi Belanda (VOC) di Sulawesi Selatan. Dan bahkan, nama Galesong menjadi populer ketika seorang rajanya ‘Karaeng Galesong’ membantu perlawanan Trunojoyo terhadap susuhunan Mataram, Amangkurat I.

Orang Galesong merupakan bagian dari masyarakat Makassar yang bermukim dalam wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Takalar, Sulawesi Selatan. Dalam sejarah perkembangannya, Galesong sebagai sebuah komunitas dan bekas kerajaan berdaulat yang dipimpin oleh seorang raja yang disebut’Karaeng Galesong’ memiliki kearifan tradisi-tradisi dan nilai-nilai budaya yang menjadi frame of reference komunitasnya. Dan hal lain dari sisi akedemis menarik untuk dikaji terutama berkenan dengan nilai-nilai budaya dalam kepemimpinan elit lokal dalam menyonsong otaonomi daerah.

Kajian mengenai nilai-nilai budaya kepemimpinan elit lokal sebagai salah atu dimensi sosial budaya masyarakat dapat membantu rencana pambangunan yang diwarnai stressing program dan proiritas-prioritas untuk menjawab situasi konkret masyarakat. Sebaliknya jika pembangunan yang dilakukan secara drastis dengan mengabaikan kearifan tradisi dan nilai-nilai budaya masyarakat lokal akan menjadi problem bila menurut Peter L.Berger; menuntut korban manusia karena kurang mempertimbangkan dimensi sosial budaya yang menjadi bingkai laku hidup masyarakat.

Salah satu kearifan tradisi yang menjadi bingkai laku masyarakat Galesong adalah pranata adat dan kepemimpinan elit lokal ‘Karaeng Galesong’ yang masih sangat berperan dalam kehidupan komunitasnya.

Sejumlah sosiolog bersepakat bahwa pemimpin ialah seorang yang memiliki pengaruh atas orang lain, dalam arti bahwa pemikiran, kata-kata dan tindakannya mempengaruhi tingkah laku orang lain. Dalam tatanan birokrasi tradisional ‘Karaeng Galesong’ adalah panutan, simbol dari adat, semua sisi dari dimensi kehidupan seorang ‘Karaeng’, perilaku dan hubungan-hubungan sosialnya, adalah pencerminan dari kelembagaan tradisional yang disebut ‘Pangngadakkang’ yang sarat dengan nilai-nilai kepemimpinan tradisional yang barangkali masih sangat relevan untuk diangkat ke permukaan menyonsong otonomi daerah.

Pendahuluan

Tulisan ini merupakan rekaman awal sebuah penelitian mengenai Gaukang dan Kalompoang dalam komunitas orang Galesong. Gelesong dalam perkembangannya sebagai komunitas dan bekas kerajaan berdaulat cukup berperan dalam pentas sejarah Sulawesi Selatan. Nama Galesong sudah tidak asing lagi tewrutama dalam hubungannya dengan Kerajaan Gowa dalam menentang dominasi Belanda (VOC) di Sulawesi Sealatan. Dan bahkan nama Galesong menjadi populer ketika seorang Rajanya Karaeng Galesong membantu perlawanan Trunajaya terhadap Susuhunan Mataram Amangkurat I.

Dalam sejarah perkembangannya sekitar awal abad XV di masa kejayaan Kerajaan Gowa, di pesisir pantai selatan Selat Makassar, berdiri sebuah kerajaan, yaitu Kerajaan Galesong, dan diperintah oleh seorang raja, yang bergelar kare, yang selanjutnya berubah menjadi karaeng. Kerajaan Gelesong yang terletak di pesisir Selat Makassar mulai dari Aeng Towa di ujung utara dan berbatasan dengan Kerajaan Gowa sampai ke Mangindara di bagian selatan, dengan luas 68,10 Km2 dan terdiri dari 23 kampung, di mana 3 kampung di antaranya terletak di wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa yakni, Tangke Jonga, Bonto Koddopepe, Pare’-pare’. Kampung tersebut merupakan pemberian Raja Gowa kepada Karaeng Galesong yang bernama I Mallarasang Daeng Magassing.

Kerajaan Galesong pada zamannya, membawahi sepuluh Daerah Kajannangang, dan Gallarrang, masing-masing:

  1. Gallarrang Aeng Batu-batu
  2. Lo’mo Sampulungang
  3. Jannang Campagaya
  4. Anrong Guru Bontolebang
  5. Anrong Guru Beba
  6. Gallarrang Bontomangngape’
  7. Jannang Mannyampa
  8. Jannang Kodatong
  9. Gallarrang Popo’
  10. Jannang Mangindara

Selain itu, Galesong juga menguasai pulau-pulau seperti Tanakeke, Bauluang, Sitangnga, Dandoangang[1]. Galesong secara kultur historis mewakili etnik Makassar dalam konstelasi perekonomian yang bercorak maritim[2].

Sekarang ini Galesong secara administratif merupakan wilayah Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan. Galesong sebagai sebuah komunitas Makassar dan bekas kerajaan berdaulat dari berbagai sisi memiliki kearifan tradisi dan nilai-nilai budaya yang menjadi frame of refrence komunitasnya, terutama nilai-nilai tradisional dalam kepemimpinan elit lokal Karaeng Galesong, yang berangkali masih sangat relefan untuk diangkat ke permukaan dalam rangka menyonsong otonomi daerah atau dengan perkataan lain apakah nilai-nilai tradisional tersebut masih gayut diaktualkan.

Kajian mengenai nilai-niali tradisional dalam lokal sebagai salah satu dimensi sosio-kultural masyarakat dalat membantu rencana pembangunan yang diwarnai stressing program dan prioritas-prioritas untuk menjawab situasi kongkrit masyarakat terutama menyangkut pemberdayaan komunitas lokal menyongsong otonomi daerah. Hal ini sangat urgen untuk menghindari pembangunan yang dilakukan secara drastis dengan mengabaikan kearifan tradisi dan nilai-niali budaya masyarakat lokal, yang pada akhirnya akan bermuara menjadi problem bila menurut Peter L. Berger menuntut “korban manusia” karena kurang mempertimbangkan dimensi sosial budaya yang menjadi bingkai laku hidup masyarakat[3].

Nilai-nilai Tradisional Dalam Kepemimpinan Elit Lokal Karaeng Gelesong

Dalam persfektif sosiologis yang disebut pemimpin ialah seseorang yang dapat memiliki pengaruh atas orang lain, dalam arti bahwa pemikiran, kata-kata dan tindakannya mempengaruhi tingkah laku orang lain. Dalam tatanan birokrasi tradisional seorang pemimpin, raja ataukaraeng adalah panutan, simbol dari adat, semua sisi dari kehidupan seorang keraeng perilaku dan hubungan-hubungan sosialnya adalah pencerminan dari kehidupan dan kelembagaan tradisional yang disebut Pangadakkang.

Dalam sistem kepemimpinan tradisional sebagaimana yang ditampilkan oleh raja karaeng di Sulawesi Selatan pada umumnya dan di daerah Makassar pada khususnya menunjukkan bahwa model-model kepemimpinan raja-raja bersumber dari naskah lontara[4]. Sebagaimana, ditegaskan oleh Mattulada bahwa dalam sistem kepemimpinan tradisional seperti yang tersirat dan tersurat dalam naskah lontara, rakyat, raja atau kelompok bangsawan (penguasa) merupakan unit sosial yang utuh. Dua komponen sosial ini pada hakekatnya tidak terpisahkan[5]. Mekanisme kehidupan politik dan sosial-budaya saling terkait dalam struktur sosial. Oleh sebab itu, menyebabkan sistem tingkatan sosial masyarakat bersifat terbuka[6].

Dalam tatanan kepemimpinan elit lokal Karaeng Galesong, nampaknya tidak jauh berbeda dengan sistem kepemimpinan tradisional di beberapa kerajaan, seperti Kerajaan Gowa dan Tallo. Bahwa landasan utama dalam sistem kepemimpinannya senantiasa berpijak pada adat yang termaktub dalam lontara. Berdasarkan ajaran lontara itu, moral kepemimpinan bagi seorang raja atau karaeng sangat mendapatkan perhatian. Oleh karena itu, faktor moral merupakan faktor yang sangat menentukan berjaya dan tidak berjayanya seorang pemimpin, raja atau karaeng/penguasa di masyarakat. Moral merupakan landasan dan kriteria utama dari rakyat yang dipimpinnya. Apabila moral seorang pemimpin atau raja telah dinilai terpuji oleh rakyatnya, maka tidak diragukan lagi bahwa adat akan mendukungnya, pemimpin atau karaeng yang bersangkutan senantiasa mendapat simpati dari rakyatnya. Kesediaan berkorban dari anggora masyarakat, termasuk kerelaan mengorbankan harta bendanya dan bahkan jiwanya yang paling berharga, akan terus mendukung bila moral seorang pemimpin atau penguasa memperlihatkan pula kesediaan untuk berkorban guna kepentingan rakyatnya. Artinya sosok seorang karaeng senantiasa menjadi pelindung rakyatnya, tidak memperkosa hak rakyatnya, dan menyayangi rakyatnya seperti sang raja/karaeng menyayangi diri dan keluarganya. Sebaliknya, bila moral sang raja/karaeng, tidak terpuji seperti hanya mementingkan diri dan keluarganya saja, berlaku tidak adil dalam memutuskan perkara di masyarakat, egoistis, serakah (korup), menindas rakyat dan dikuasai oleh nafsu angkara murka. Maka tak ayal lagi sang raja yang bersangkutan akan dibenci oleh rakyatnya[7].

Suatu cuplikan dalam tradisi lisan yang terdapat dalam komunitas orang Galesong yang mencerminkan bahwa seorang pemimpin seharusnya memiliki moral yang baik antara lain diungkapkan sebagai berikut:

Ikambe juru mudia = Wahai pemimpin
Jarreki tannang gulinnu = Perkuat pasang kemudimu
Nu tea lalo = Jangan sekali-kali
Toali riminasannu = Berpaling dari harapan
Punggawa teako jekkong = Wahai pemimpin jangan berbuat curang
Sawi teako ngarui = Sawi/pengikut janganlah resah
I rate konteng = Di atas perahu
Toddok puli minasaya = Tetapkan harapan kita

Tradisi lisan tersebut di atas mencerminkan bahwa seorang pemimpin tidak boleh berbuat curang, dia sebagai sosok manusia yang menetapkan dan mengarahkan tujuan dan kemaslahatan orang banyak, orang yang dipimpin pun harus seia-sekata dengan pemimpinnya.

Kriteria moral kepemimpinan yang diharapkan oleh masyarakat dalam sebuah negara adalah berkaitan dengan moral agama (iman dan amal), maupun konsep hidup dalam tatanan interaksi sosial di masyarakat. Penilaian moral ini tidak hanya ditujukan pada pribadi sang Karaeng saja, tetapi juga segenap anggota kerabatnya. Khususnya terhadap sikap keluarga ini mutlak harus diperlihatkan sikapnya yang tegas di masyarakat jika sang penguasa berkeinginan dihormati dan dipatuhi perintahnya. Sebab jika dia bersikap tegas hanya kepada rakyatnya saja, sedangkan kepada keluarganya/kerabatnya memperlihatkan keraguan untuk bertindak tegas, bahkan berusaha melindungi kesalahan yang dibuat oleh keluarganya, maka jelas rakyat akan sukar mendukung kepemimpinannya dan bahkan akan mendapat cacat sosial dari rakyat yang dipimpinnya.

Sumber lontara menyatakan bahwa adat identik dengan hukum yang harus diikuti dan dipatuhi oleh rakyat termasuk kelompok bangsawaan/kerabat karaeng dan Raja sekalipun. Adat tidak mengenal cucu, tidak mengenal penguasa, tidak mengenal orang kaya, mislin, tidak mengenal kelompok aristokrat, pendek kata adat atau hukum harus ditegakkan oleh setiap raja/karaeng yang berkuasa demi terwujudnya rasa keadilan di masyarakat. Sebagai contoh, bagaimana bila ada raja/karaeng yang tidak bermoral selama bertahta? Apa tindakan rakyat yang menjadi korban kezalimannya itu? Dalam lontara, cukup banyak diuraikan tentang tindakan rakyat terhadap raja dan penguasanya yang tidak bermoral selama memerintah. Contoh yang menarik disajikan di sini adalah; I Tepu karaeng daeng Parabbung, Raja Gowa XIII, karena perbuatannya yang sewenang-wenang terhadap rakyat, termasuk berlagak angkuh terhadap para pembesar di Gowa dipecat dari jabatannya dan akhirnya pergi ke Luwu dan menetap di sana[8]. Contoh lain dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat Galesong yang pernah terjadi pada tahun 1877-1878, yakni seorang warga masyarakat melakukan salimara’ yaitu hubungan seks yang tidak wajar dengan saudara perempuan tirinya. Walaupun tindakan pelanggaran itu telah dikenakan hukuman berdasarkan peraturan Hindia-Belanda, tetapi oleh masyarakat dipandang tidak menjamin kesucian masyarakat apabila tidak dikenakan sanksi adat. Karena itu Lo’mo’ Sampulungang meminta kepada Kontrolir Kooreman agar menyerahkan pelaku kejahatan itu kepada penguasa adat, karena kejahatan yang demikian itu menurut adat harus dibunuh dengan memasukkan kedua orang yang melakukan hubungan seks tidak wajar itu ke dalam satu karung dan ditenggelamkan[9].

Berdasarkan kedua contoh kasus di atas menunjukkan bahwa dalam sistem kepemimpinan tradisional / elit lokal kedudukan seorang Karaeng, sikap dan tingkah lakunya senantiasa berpangkal pada adat dan sistem hukum sebagaimana yang terdapat dalam pranata sosial masyarakat yang bersangkutan. Demikian pula sebaliknya jika rakyat yang melanggar ketentuan adat, maka rakyat yang melakukan pelanggaran tersebut mutlak dikenakan sanksi adat. Contoh ini merupakan fakta sejarah untuk melihat bagaimana kedudukan seseorang sama di depan hukum tanpa membedakan posisi sosialnya di masyarakat.

Selain faktor moral yang merupakan landasan kriteria seseorang layak menjadi pemimpin, dalam lontara juga dinyatakan bahwa apabila seorang raja atau putra mahkota telah disetujui oleh adat atau dewan kerajaan termasuk raja yang berkuasa, maka seyogyanya sebelum dia memangku tahta atau jabatan kerajaan mutlak harus melakukan partisipasi dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dimaksudkan agar yang bersangkutan dapat mengetahui kehidupan rakyatnya dengan sebaik-baiknya. Dengan perkataan lain raja/karaeng belajar menjadi rakyat, mencoba mengidentifikasi persoalan yang dihadapi rakyat, memahami apa yang menjadi keinginan rakyatnya, kerisauan hati rakyatnya[10]. Partidipasi seorang raja/karaeng untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang dihadapi rakyat merupakan suatu tindakan untuk lebih memudahkan seorang raja/karaeng menetapkan suatu keputusan atau kebijkana mengenai persoalan yang dihadapi oleh mesyarakat. Apabila unsur-unsur tersebut di atas telah terpenuhi maka akan menambah derajat kepanutan masyarakat terhadap karaeng.

Berkaitan dengan konteks di atas ada baiknya di ketengahkan pemikiran yang terkandung dalam lontara yang berkaitan dengan masalah moral seorang raja/karaeng/ bangsawan terhadap rakyatnya. Pemikiran itu menyebutkan sebab musabab kehancuran sebuah negara sebagaimana pernyataan Karaeng I Mangadaccing Daeng Sitaba Karaeng Pattingaloang;

Nakana Karaenga lima pammanjenganna matena butta lompoa uru-uruna punna tea nipakainga’ karaeng ma’gauka makaruanna punna taena tumangngasseng ilalang pa’rasangan lompoa; maka talluna, punna mangngalle soso’gallarang ma’bicaraiya; maka appa’na punna majai gau’ ilalang pa’rasangan lompoa; maka limana punna tana kamaseangnga atanna karaeng ma’gauka.

Artinya: ada lima faktor yang dapat meruntuhkan suatu negara besar. Pertama, raja yang memerintah tidak mau diperingati; kedua, tidak ada orang pandai, kelompok cendekiawan dalam negeri besar; ketiga, para hakim dan pejabat kerajaan dapat disuap; keempat, terlampau banyak masalah besar dalam negara tersebut; kelima, raja tidak mencintai rakyatnya.

Kelima faktor yang diceritakan oleh Karaengta ini merupakan penyakit masyarakat atau negara. Bila sang penguasa tidak memiliki atau rendah moralnya. Dalam konteks itulah, kualitas moral harus diperhatikan oleh seorang raja/karaeng selama masa pemerintahannya. Bagaimana agar moral seorang raja atau karaeng dapat dikontrol? Dalam hal ini pentingnya budaya siri berperan dalam kehidupan masyarakat[11].

Dalam sistem pemerintahan di kerajaan Galesong pada umumnya dikenal dengan sistem Demokrasi Terpusat pada kekuasaan karaeng sebagai pemimpin yang kharismatik. Para karaeng langsung berhadapan dengan rakyatnya karena ia memiliki atau pemilik kalompoang dan membentuk pola kepemimpinana yang dikenal sebagai PamminawangngangTojeng (kepemimpinan langsung).

Munculnya konsep kepemimpinan langsung pada masyarakat di Kerajaan Galesong bersumber pada konsep kalompoang dan gaukang yang dianggap oleh masyarakat memiliki kekuatan supranatural. Oleh karena itu, kalompoang dan gaukang mengandung kebesaran atau kehormatan. Kalompoang dan gaukang merupakan atribut kerajaan. Konsep gaukang lebih menunjukkan pada benda dan hasil perbuatan (Gau=berbuat), sedang konsep kalompoang lebih mengaitkannya dengan jabatan tertentu, dan benda-benda tertentu yang ditemukan secara ajaib dengan bentuknya yang ajaib pula. Kooreman mengatakan bahwa gaukang adalah sebuah benda yang aneh bentuk ataupun warnanya, dapat berupa sebuah batu, sepotong kayu, buah-buahan tertentu, sepotong kain atau kadang-kadang senjata atau perisai dengan kekhususan tertentu. Pendeknya dia adalah benda aneh, yang diketemukan atau didapat dengan cara yang aneh, rahasia atau dengan cara yang luar biasa. Gaukang di Galesong misalnya berupa batu dengan rupa mirip tubuh manusia[12].

Sebuah kalompoang dapat berupa benda pusaka kerajaan atau benda-benda peninggalan tokoh yang dinyatakan turun dari khayangan yang mereka nobatkan sebagai peletak dasar kerajaan. Benda ini merupakan jaminan pengabsahan yang memberikan kesaksian bahwa pemegang telah memiliki kekuasaan sebagai perwalian pemilik utama kekuasaan yang berasal dari kalompoang dengan demikian pemegang kekuasaan itu akan bekerja sesuai petunjuk pemilik utama kekuasaan itu bagi kesejahteraan dan ketertiban masyarakat[13].

Pemilik gaukang dan kalompoang berhak untk duduk pada puncak kekuasaan untuk memimpin suatu kaum atau negeri dan dinobatkan sebagai pemimpin atas dasar keabsahan gaukang dan kalompoang. Dalam lingkungan Karaeng Galesong, gaukang dan kalompoang merupakan sumber legitimasi kekuasaan. Oleh karena itu, Karaeng Galesong diterima dan dihormati sebagai pemimpin Pamminawangngang tojeng. Selain itu, kalompoang atau gaukang berkaitan erat dengan anggapan masyarakat bahwa melalui benda itu pemegang, penerima kekuasaan dan akan terikat ikrar kepatuhan, ketaatan dan tata tertib yang diwarisi oleh pendiri kerajaan, sehingga dapat memikat pengakuan dan ketaatan dari rakyat bahwa seseorang yang dianugrahi memiliki kalompoang dan gaukang pada dirinya tercermin kepemimpinan karismatik yang pada akhirnya bermuara pada kedudukan seorang karaeng sebagai pemilik kallabbirang (kemuliaan), kacaraddekang (kepintaran), kabaraniang (keberanian), kakalumayyangang (kekayaan).

Seorang pemimpin adalah panutan, ia adalah simbol dari adat, semua sis dari dimensi kehidupan seorang pemimpin atau karaeng perilaku dan hubungan-hubungan sosialnya adalah pencerminan panggadakkang. Di satu sisi karaeng sebagai suatu sosok tunipinawang (panutan) sedangkan rakyat sebagai sosok tumminawang (pengikut).

Sumber lotara mengatakan bahwa seorang pemimpin ideal apabila memiliki empat syarat kepemimpinan yaitu:

1. Kacaraddekang (kepintaran)

2. Lambusu’ (kejujuran)

3. Kabaraniang (keberanian)

4. Kakalumanyangang (kekayaan)

Seorang pemimpin yang cerdas, cendekia memimliki empat unsur: a) Orangnya cinta pada perbuatan yang bermanfaat; b) Orangnya suka pada kelakuan yang menimbulkan kamaslahatan; c) Orangnya jika menemukan persoalan selalu berusaha mengatasinya; d) Orangnya jika melaksanakan segala sesuatu selalu berhati-hati.

Adapun sifat lambusu’ atau jujur berlawanan dengan sifat jekkong (curang). Lambusu’ ; kejujuran mengandung empat hal utama yaitu:

1. Tutui (berbuat cermat)

2. Baji bicara (bicara yang benar)

3. Anggau’ baji (melakukan perbuatan yang bermanfaat)

4. Kuntu injeng (bekerja dengan penuh kesungguhan dan bertanggung jawab)

Dikatakan pula bahwa seorang pemimpin yang jujur mencerminkan pribadi pemaaf artinya jika orang berbuat salah padanya, dia lantas memberi manfaat, jika diserahi amanat, dia tidak khianat, jika bukan bagiannya dia tidak menserakahinya, dia bekerja untuk kebaikan orang banyak, bukan untuk dirinya.

Kabaraniang atau sifat pemberani pada hakekatnya mengandung empat unsur yakni:

1. Tammallakkai nipariolo artinya tik takut jadi pelopor

2. Tammallakkai nipariboko artinya tak takut berdiri dibelakang dalam artian memberi kesempatan kepada orang lain yang lebih potensial (bersikap demokratis)

3. Tammallakkai allangngere’ kabara artinya tak gentar mendengar kabar baik maupun buruk, menerima kritik dan saran dari orang lain, berjiwa besar dan mempunyai sifat ingin tahu

4. Tammallakkai accini bali’ artinya tak gentar menghadapi lawan, baik dalam berunding maupun berperang, tegas dan konsisten

Berdasarkan cerita lisan yang berkembang di dalam masyarakat Galesong bahwa sifat pemberani telah dibuktikan oleh sejumlah orang Galesong dalam menentang dominasi Belanda di tanah Makassar. Diceritakan bahawa I Mangngopangi Daeng Ngutung pernah mengucapkan janji dihadapan Karaeng Galesong, antara lain:

Bajimaki anne abbannang kebo’ karaeng Pada saatnya kita harus berikrar
Naki bulomo sibatang Bahwa kita harus bersatupadu, seia-sekata
Cera’ sitongka-tongka Kita jalankan bahwa yang benar adalah benar
Nanipajappa nikanayya kuntutojeng Dan yang batil adalah batil
Assorong bokoi ero’na Balandayya Kita hancurkan semua kehendak Belanda
Aminasa dudutonga karaeng Niatku begitu mendalam wahai sang raja
Ampannepokangi pasorang Untuk mematahkan senjatanya
Ma’tanga parang Di tengah medan perang
Ampanumbangngangi balembeng ma’bangkeng romang Kuruntuhkan bagai gunung di tepi hutan
Punna nia buranne karaeng rewanggang na inakke Jikalau ada lelaki yang lebih jantan dari saya karaeng
Sere’lipa kuruai kusionjo’ tompo bangkeng Satu sarung kami berdua saling berantam
Kusikekke kamma lame kukamma mamo kicini karaeng Saling merobek
Tedong a’lagayya jarang sialle ganayya Bagai kerbau yang berlaga, kuda yang beringas
Nampa kicinika I Mangopangi Daeng Nguntung Lihatlah I Mangopangi Daeng Ngutung
Campagana Bulukumpa Campagana Bulukumba

Sesudah I Mangopangi lalu berdiri I Pasanri Daeng Kancing bersumpah:

Manna ka’kanying ilau Walau awan berarak di barat
Bangkeng barakka kucini Hujan badai yang kulihat
Tamminasayya Tak kuinginkan
Towali ri’turangangku Kembali ke kampung halaman
Eja tompiseng na doang karaeng Biarkan merah barulah dikatakan udang
Tumbang tompi na nicini Biarkan runtuh baru dilihat
Nanisombali tangkana sikalia Kita layarkan orang berkata tegas

Setelah itu, disusl kemudian I Yumara berikrar:

Bannang ejayya ri Bajeng

Benang merah dari bajing

Tassampea ri Galesong

Yang tersangkut di Galesong

Tappuki na tamkombeka

Putus tapi tak kendor

Anrai-raiki karaengku

Ke timurlah wahai raja

Inakke irayanganta

Saya lebih ke timur lagi

Kalakalaukki karaengku

Ke baratlah wahai raja

Inakke ilaukanna

Saya lebih ke barat lagi

Karaengku jammeng

Rajaku wafat

Ikambe lingka tongiseng ri anja

Kami meninggal jua

Pangkai jeraku karaeng

Tetaklah kuburanku wahai raja

Tinraki bate onjokku

Patok bekas telapak kakiku

Tena kuero karaeng lari ri parang bali

Tak kuingin lari dari medan perang

Nakiciniki I Yumara Daeng Mapasang

Lihatlah I Yumara Daeng Mapasang

Bannang ejana Bajeng

Benang merah dari Bajeng

Panjarianna tumanurunga ri Ko’mara

Keturunan tuanurunga’ ri Ko’mara

Selanjutnya kekayaan memiliki pula empat unsur, yakni:

1. Tumakurangi ri nawa-nawa, artinya tak kehabisan inisiatif, penuh kreatifitas.

2. Tumakkurang ri bali bicara, artinya tak kekurangan jawaban, kaya akan pengetahuan.

3. Masagena ri sikamma gau, artinya mahir dan terampil dalam setiap pekerjaan.

4. Tamakurangi ri sikanna pattujuang, artinya tak kekurangan usaha karena memiliki modal.

Selanjutnya dalam menjamin keikutsertaan rakyat kepada pemimpin, dalam kalangan masyarakat Makassar pada umumnya dan komunitas lokal di Dalesong pada khususnya dikenal pula prinsip-prinsip prilaku kepemimpinan tradisional, sebagai berikut:

1. Mallakko ri Karang Allah Taala Bertakwalah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Suatu simbol kebersamaan antara pemimpin dan yang dipimpin.

2. Atinna tauwa nupa’lamung-lamungi Tanamlah suatu kebaikan kepada orang banyak (orang yang dipimpin). Dalam hal memupuk rasa cinta dan kebersamaan.

3. Allei riwaya pelaki ruwaya Ingat setiap perbuatan orang lain kepadamu dan kesalahanmu atas kekeliruanmu kepada orang lain, serta lupakan perbuatan baikmu kepada orang lain dan perbuatan salah orang lain kepadamu. Hal ini penting untuk integritas masyarakat.

4. Cakkoi assalainu Sembunyikan asal keturunanmu biarkanlah orang lain yang menelusuri asal usul kita dari pada kita mengembar-gemborkan. Penting untuk mempertahankan wibawa.

5. karaengi tauwa assala’ mutowai Hormatilah orang yang diperintah (dipimpin) sehingga mereka dapat berpartisipasi secara aktif.

Dalam kepemimpinan elit lokal di Galesong, ciri kepemimpinan maupun efektifitas kepemimpinan ditentukan oleh sifat-sifat kepribadian yang multidimensional. Antara lain bahwa kepemimpinan masyarakat senantiasa memperlihatkan aspek demokratis yang sejak dulu menjadi bagian sikap kepemimpinan yang diharapkan, sehingga tidak saja berdasar kepada keturunan juga menuntut kemampuan, kecerdasan dan dukungan masyarakat.

Suatu cuplikan yang mencerminkan aspek demokratis ketika terjadi pemilihan Raja Galesong XVII pada tanggal 6 Agustus 1952, di mana tiga orang calon dipilih langsung oleh sejumlah tokoh-tokoh masyarakat tani dan nelayan, kepala-kepala kampung, gallarang, jannang, anrong guru, dan imam-imam kampung. Pada pemilihan tersebut disaksikan oleh Residen A. Mangkulla Dg. Parumpa yang mewakili Gubernur. Hasil dari pemilihan tersebut diketahui bahwa:

a. A.J. Bostan Dg. Mama’dja memperoleh 85% suara.

b. Abd. Kadir Dg. Toto memperoleh 10% suara.

c. Nurung Dg. Tombong memperoleh 5% suara.

Penutup

Berbicara tentang aktualisasi niali-nilai tradisional dalam kepemimpinan komunitas lokal di Galesong pada dasarnya tidak terpisahkan dari lembaga adat yang disebut pangngadakkang. Sebagaiman yang dikatakan oleh Mattulada bahwa adat istiadat dalam masyarakat Bugis-Makassar merupakan salah satu kekuatan untuk menopang kelangsungan hidupnya. Dalam masyarakat tersebut terdapat seperangkat tata nilai sebagai salah satu unsur yang diyakini dan menjadi frame of reference tentang bagaimana seharusnya seseorang berbuat, bersikap dalam kehidupan sosial. Nilai-nilai itulah yang memepengaruhi dan kadang-kadang dapat dikatakan “membentuk” keseluruhan “sikap” masyarakat terhadap satu orientasi, dan itulah yang muncul atau terpolakan ke atas permukaan dalam kehidupan sosial masyarakat.

Dalam masyarakat Makassar pada umumnya dan komunitas orang Galesong pada khususnya, lembaga adat pangngadekkang yang sarat dengan nilai-nilai utama yang terhimpun dalam sejumlah lontara termaktub berbagai aspek dan nilai-nilai kepemimpinan yang menjadi acuan rakyat dan raja atau karaeng (kelompok bangsawan) ataupun pemerintah tentang siapa yang pantas dan tidak pantas dijadikan sebagai pemimpin. Dengan demikian pengambilan peran setiap anggota masyarakat pada dasarnya berpatokan pada hukum-hukum, norma-norma dan aturan-aturan adat yang mengatur tingkah laku pendukungnya. Itulah yang menyebabkan kita dapat menelusuri pranat sosial, kelakuan berpola dari masyarakat pendukung kebudayaan itu. Adat tata kelakuan dama masyarakat Makassar, dilihat dari tingkah laku berpola dalam berkomuniti dan dalam hubungan kekerabatan.

Tingkah laku berpola dalam erkomunitas menyangkut pranata yang mengatur tingkah laku masyarakat dalam kehidupan bernegara atau bermasyarakat. Hal ini menyangkut nilai-nilai budaya dalam penataan pemerintahan. Pranata seperti ini disebut “Siri Butta” yang secara berurutan diatur oleh ada’ butta. Ada’ butta merupakan adat tata kelakuan bernegara yang menata kelakuan berpola dari anggota-anggota kesatuan kenegaraan menuntut kejujuran setiap warga untuk mematuhi segala hukum, norma, dan aturan kenegaraan dan bertanggung jawab terhadap keutuhan, keamanan dan ketertiban masyarakat[14].

Akhirnya secara hipotetik dapat dikatakan bahwa nilai-nilai kepemimpinan dan kelembagaan tradisional yang terdapat dalam masyarakat Makassar, dan komunitas orang Galesong kelihatannya masih tetap relevan dan perlu diaktualkan, diimplementasikan dalam program-program pembangunan khususnya pembangunan desa dan daerah dalam sistem kepemimpinan di daerah senantiasa terkait dengan aspek kebudayaan. Sebagaimana dikatakan oleh Schein: Culture and leadership are really two sides of the same coin one can not understand one without the other[15].


Tulisannya kurang jelas (fotocopy).

Daftar Pustaka

Abdullah, Hamid

1991 Andi Pangerang Petta Rani Profil Pemimpin yang Manunggal Dengan Rakyat, Gramedia Widya Sarana Indonesia. Jakarta

1985 Manusia Bugis-Makassar, Inti Idayu Press. Jakarta

Ahimsah, Heddy Shri

1988 Minawang Hubungan Patron Klien di Sulawesi Selatan, Gajah Mada University Press. Yogyakarta

Latif, Abdul

1994 “Galesong Di Masa Lalu, Studi Tentang Sejarah Maritim di Sulawesi Selatan”. Lembaga Penelitian, Unhas. Ujung Pandang

Mama’dja, A. J. Bostan Daeng

1988 Sejarah Kerajaan Dan Perjuangan Karaeng Galesong Pada Abad XV – XIX (tidak dipublikasikan)

Manyambeang, A. Kadir (dkk)

1983 “Jiwa Laut Dalam Sastra Makassar”, Universitas Hasannudin. Ujung Pandang

Meko, Frieds

1998 “Dimensi Sosial Budaya Masyarakat Lokal dalam Pembangunan”. (Kompas, 12 Februari 1998)

Mg, A. Muin

1977 Menggali Nilai Sejarah Kebudayaan Sulsera “Siri” dan “Pacce”, Mappress. Ujung Pandang

Mattulada

1975 Latoa, Tesis Doktor UI. Jakarta

1974 “Bugis-Makassar Dalam Manusia dan Kebudayaan” Dalam Berita Antropologi Terbitan Khusus No. 16

Paeni, Mukhlis (dkk)

1986 “Kepemimpinan dan Kelembagaan di Sulawesi Selatan” (makalah) Seminar Nasional HIPIIS. Ujung Pandang

1987 Dinamika Bugis-Makassar, Sinar Krida. Ujung Pandang

Patunru, Abdul Razak Daeng

1969 Sejarah Gowa, YKSSP. Ujung Pandang

Rahim, A. Rahman

1992 Nilai-Nilai Utama Kebudayaan Bugis, Hasannudin University Press. Ujung Pandang

Schein, E. H.

1988 Organizational Culture and Leadership: A Dinamic View Jossey-Bass Inc Publisher. San Fransisco


* Disampaikan dalam Seminar dan Lokakarya Internasional “Mangawali Abad ke-21: Menyonsong Otonomi Derah, Mengenali Budaya Lokal, Membangun Integrasi Bangsa”, pada tanggal 1-5 Agustus 200 di Pusat Kegiatan Penelitian Universitas Hasannudin, Makassar.

[1] Asisten Residen O.M. Goedhart, Nota Over de Rechtsqemeeschappen in de onderafdeelingen Takalar en Jeneponto, Den Hag 13 Maret 1920. P. 48.

[2] Abdul Latif, Galesong Di Masa Lalu, Studi tentang Sejarah Maritim di Sulawesi Selatan. Lembaga Penelitian UNHAS, 1994, Hal. 4.

[3] Frieds Meko, Dimensi Sosial Budaya Masyarakat Lokal Dalam Pembangunan (Kompas) 12 Februari 1998.

[4] Lontarak adalah segala macam naskah yang biasanya ditulis di atas daun lontarak (Roundtalle) atau semacam menuskrip yang ditulis dengan tangan menggunakan aksara Bugis-Makassar.

[5] Lihat Mattulada, Latoa, Tesis Doktor UI. Jakarta 1975.

[6] Hamid Abdullah, Andi Pangerang Petta Rani Profil Pemimpin Yang Manunggal Dengan Rakyat. Jakarta, PT. Gramedia Widiasarana Indonesia 1985, Hal. 74.

[7] Ibid, hal. 76.

[8] Ibid, hal. 77.

[9] Mukhlis Paeni, Landasan Kultural Dalam Pranata Sosial Bugis-Makassar. Ujung Pandang, PT. Sinar Krida, 1986, hal. 19.

[10] Abdullah, opert, hal. 78.

[11] Hamid Abdullah, Manusia Bugis-Makassar. Jakarta Inti Dayu Press. 1985. hal. 88-89. Juga Tahman Rahim, Nilai-Nilai Utama Kebudayaan Bugis. Ujungpandang, Hasanuddin University Press, 1992, hal. 144.

[12] Heddy Shri Ahimsa Putra, Minawang Hubungan Patron-Klien Di Sulawesi Selatan. Yogyakarta, Gajahmada University Press, 1998, hal. 119.

[13] Mukhlis, op. Cit, Hal. 23-25.

[14] Ibid, hal 22.

[15] Schein, E. H, Organizational Culture and Leadership. A Dynamic View Jassey, Bass. San Fransisco, inc Publisher, 1998:p. 23.